PDIP Anggap Koalisi Besar Masa Lalu, Gerindra Ditunggu

PDIP Anggap Koalisi Besar Masa Lalu, Gerindra Ditunggu

- detikNews
Senin, 11 Mei 2009 07:07 WIB
PDIP Anggap Koalisi Besar Masa Lalu, Gerindra Ditunggu
Jakarta - Kepastian akan berlabuh ke mana koalisi PDIP dalam Pilpres 2009 masih belum jelas. Kans bergerak ke Partai Demokrat cukup tinggi, karena PDIP menganggap koalisi besar sudah masa lalu. Namun, PDIP masih menunggu sinyal Gerindra.

Waktu bagi PDIP untuk berpikir-pikir dan menimbang-nimbang arah koalisi masih empat hari lagi, bila ingin bergabung dengan Demokrat. Partai Demokrat baru akan mendeklarasikan duet SBY dengan cawapresnya tanggal 15 Mei 2009.

Ketua DPP PDIP yang juga Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Tjahjo Kumolo menyatakan saat ini koalisi besar sudah masa lalu. "Saat ini koalisi besar kami anggap masa lalu, sehingga tidak usah dibahas," kata Tjahjo seusai menggelar rapat dengan Ketua Umum PDIP Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (10/5/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koalisi besar adalah koalisi yang diteken oleh sejumlah parpol, antara lain PDIP, Golkar, Hanura, Gerindra, dan beberapa parpol kecil. Namun, indikasi koalisi besar ini tak bertahan lama sudah mulai terlihat beberapa jam kemudian, setelah Golkar dan Hanura menduetkan JK-Wiranto sebagai capres-cawapres pada malam harinya.

Dengan duet JK-Wiranto, maka PDIP dan Gerindra harus bersikap. Kedua parpol ini mencoba untuk menciptakan duet, namun masih belum mendapat kata sepakat hingga kini. Masalahnya, Gerindra yang perolehan suaranya jauh lebih kecil dibanding PDIP menginginkan Prabowo sebagai capres, sedangkan PDIP diminta mengusung cawapres. Di
saat kebuntuan terjadi, PDIP mendapat tawaran dari Demokrat.

Hingga saat ini, PDIP masih terus melakukan komunikasi dengan Demokrat. Namun, PDIP belum menutup rapat-rapat pintu koalisi dengan Gerindra. "Kami masih menunggu sepekan ini," kata Tjahjo. Dia memberikan sinyal, bila Prabowo mau jadi cawapres, maka PDIP dan Gerindra akan bisa menciptakan duet capres-cawapres.

Prabowo dianggap masih memiliki prospek yang bagus, karena survei Puskapol UI, elektabilitas Prabowo naik pesat, sementara SBY turun. Bila kekuatan Megawati-Prabowo disatukan akan bisa mengimbangi kekuatan SBY.

Sumber detikcom, Senin (11/5/2009) mengatakan sebenarnya awalnya PDIP mendekati Demokrat hanya untuk menakut-nakuti Gerindra. "Tujuannya hanya untuk membuat gertakan agar Gerindra mau jadi cawapres. Tidak lebih," kata dia.

Namun, ternyata Gerindra tidak juga berubah. Kini setelah melakukan komunikasi intensif, PDIP melihat koalisi dengan Demokrat, ternyata menguntungkan. "Saat ini, hampir semua petinggi PDIP sudah yakin dengan Demokrat, kecuali Megawati," ujar dia.
(asy/anw)


Berita Terkait