Waktu bagi PDIP untuk berpikir-pikir dan menimbang-nimbang arah koalisi masih empat hari lagi, bila ingin bergabung dengan Demokrat. Partai Demokrat baru akan mendeklarasikan duet SBY dengan cawapresnya tanggal 15 Mei 2009.
Ketua DPP PDIP yang juga Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Tjahjo Kumolo menyatakan saat ini koalisi besar sudah masa lalu. "Saat ini koalisi besar kami anggap masa lalu, sehingga tidak usah dibahas," kata Tjahjo seusai menggelar rapat dengan Ketua Umum PDIP Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (10/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan duet JK-Wiranto, maka PDIP dan Gerindra harus bersikap. Kedua parpol ini mencoba untuk menciptakan duet, namun masih belum mendapat kata sepakat hingga kini. Masalahnya, Gerindra yang perolehan suaranya jauh lebih kecil dibanding PDIP menginginkan Prabowo sebagai capres, sedangkan PDIP diminta mengusung cawapres. Di
saat kebuntuan terjadi, PDIP mendapat tawaran dari Demokrat.
Hingga saat ini, PDIP masih terus melakukan komunikasi dengan Demokrat. Namun, PDIP belum menutup rapat-rapat pintu koalisi dengan Gerindra. "Kami masih menunggu sepekan ini," kata Tjahjo. Dia memberikan sinyal, bila Prabowo mau jadi cawapres, maka PDIP dan Gerindra akan bisa menciptakan duet capres-cawapres.
Prabowo dianggap masih memiliki prospek yang bagus, karena survei Puskapol UI, elektabilitas Prabowo naik pesat, sementara SBY turun. Bila kekuatan Megawati-Prabowo disatukan akan bisa mengimbangi kekuatan SBY.
Sumber detikcom, Senin (11/5/2009) mengatakan sebenarnya awalnya PDIP mendekati Demokrat hanya untuk menakut-nakuti Gerindra. "Tujuannya hanya untuk membuat gertakan agar Gerindra mau jadi cawapres. Tidak lebih," kata dia.
Namun, ternyata Gerindra tidak juga berubah. Kini setelah melakukan komunikasi intensif, PDIP melihat koalisi dengan Demokrat, ternyata menguntungkan. "Saat ini, hampir semua petinggi PDIP sudah yakin dengan Demokrat, kecuali Megawati," ujar dia.
(asy/anw)











































