Jika PDIP benar-benar gabung dengan koalisi yang digagas Demokrat, partai oposisi ini bakalan ditinggalkan pendukungnya lantaran dianggap tidak konsisten.
"Kalau PDIP melakukan itu (koalisi) berarti tidak konsisten. Bagaimana PDIP memberi penjelasan kepada konstituen, apa rasionalitasnya," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli kepada detikcom, Senin (11/5/2009).
Menurut Lili, tidak mungkin kedua partai yang awalnya saling berseberangan tiba-tiba saja lengket. Kritikan-kritikan PDIP terhadap PD masih nyaring tersimpan di benak khalayak. Apa gerangan yang memuat PDIP-PD saling merapat?
"Kecuali PDIP kerjasama dengan partai lain, ini bisa dipahami. Tapi Kalau dengan yang selama ini mereka kritik ya tanda tanya. Ada apa gerangan?" tanya Lili.
Jika koalisi ini terjadi, nyaris kekuatan SBY tak tergoyahkan. Bergabung dengan PKS, PKB, PPP dan PAN saja Demokrat sudah berjaya, apalagi dengan PDIP yang notabene partai oposisi. "Makanya harus dijelaskan secara rasional oleh PDIP. Ada apa gerangan," imbuhnya.
Lili menyayangkan sikap PDIP jika langkah ini benar-benar dilakukan. Sebagai partai oposisi, risikonya memang harus siap kalah lagi. "Sebagai sebuah partai oposisi memang jauh dari kenikmatan yang ada. Tapi mulia juga menjadi partai oposisi, karena konteksnya dalam rangka untuk mengabdi kepada bangsa," ucapnya.
Peluang Golkar-Hanura juga kian menipis seiring mengguritanya koalisi yang dipimpin Demokrat. Diperkirakan, segala program-program SBY akan mulus tanpa hambatan dari DPR.
"Jadi sekarang bagaimana agar nanti para anggota parlemen harus tetap memperjuangkan aspirasi rakyat. Selama itu yang dilakukan, pemerintah wajib kita dukung. Check and balances juga harus terus dijaga," pungkas Lili.
(anw/mpr)











































