PDIP Koalisi dengan PD, PAN dan PPP Diprediksi Akan Tarik Dukungan

PDIP Koalisi dengan PD, PAN dan PPP Diprediksi Akan Tarik Dukungan

- detikNews
Minggu, 10 Mei 2009 22:41 WIB
PDIP Koalisi dengan PD, PAN dan PPP Diprediksi Akan Tarik Dukungan
Jakarta - PDI-Perjuangan (PDIP) dikabarkan akan merapat ke Partai Demokrat (PD). Namun rencana koalisi PDIP-PD dinilai akan merugikan PD. Sebab parpol-parpol yang saat ini sudah menyatakan diri berkoalisi bisa berbalik arah.

"Kalau PD berkoalisi dengan PDIP, dipastikan partai pendukung SBY akan balik kanan dan akan bergabung dengan Golkar. Misalnya PKS. Partai tersebut akan sangat membenci SBY dan Partai Demokrat," kata pengamat Universitas Indonesia Tjipta Lesmana kepada detikcom, Minggu (10/5/2009).

Mundurnya PKS, ujar Lesmana, karena PKS merasa dikecewakan. Sebab selama ini PDIP dikenal sebagai partai yang selalu menyerang kebijakan SBY. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang partai tersebut justru merapat ke PD dan SBY.

Lesmana menambahkan, penolakan koalisi PD-PDIP, diperkirakan bukan hanya ditentang partai pendukung SBY. Konstituen PDIP juga dipastikan akan merasa kesal. "Banyak kader PDIP akan menganggap DPP PDIP sebagai pengkhianat. Sebab yang mereka tahu PDIP berseberangan dengan PD," tandasnya.

Pandangan serupa juga dikatakan pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya. Menurutnya, jika PDIP merapat ke PD, maka partai berlambang kepala banteng moncong putih tersebut akan dianggap pragmatis dan melemahkan tradisi oposisi.

"Saya sering mengatakan koalisi besar partai nonsens. Tapi yang lebih
mengejutkan lagi, PDIP yang selama ini menjadi motor utama atau penyangga utama koalisi itu, ternyata juga pragmatis," kata Bima Arya, kepada detikcom.

Bima menilai, ongkos politik yang dikeluarkan PDIP akan sangat mahal jika berkoalisi dengan PD. Karena PDIP akan sulit menjelaskan kepada konstituennya dengan perubahan sikap yang drastis tersebut.

"Saya kira, hal ini belum ada keputusan di internal PDIP sendiri. Bahkan ada penolakan di sejumlah elemen PDIP. Karena partai ini akan menjadi pragmatis dan tidak aka tahan lagi untuk beroposisi," jelasnya.

Bima menegaskan, yang paling mengkhawatirkan bila PDIP berkoalisi dengan PD, maka kondisi demokrasi di Indonesia sangat memprihatinkan. "Tradisi oposisi yang selama ini dibangun PDIP yang sudah bagus lima tahun ini akan melemah kembali. Check and balances dengan pemerintah akan terganggu," ujarnya.

Selain itu, lanjut Bima, koalisi PDIP-PD akan berimbas pada posisi tawar jabatan cawapres. Sebab PDIP sangat menginginkan Boediono menjadi cawapres SBY. Padahal langkah tersebut akan merapuhkan koalisi yang dibangun PD selama ini

"Kalau Boediono dipilih jadi cawapres SBY, bisa jadi PAN dan PPP akan menarik dukungan. Kedua partai tersebut kemungkinan akan memilih Gerindra sebagai mitra koalisi," pungkasnya Bima Arya yang juga peneliti LIPI tersebut.
(zal/anw)


Berita Terkait