"Gerindra dan PDIP dalam posisi saling mengunci. Dua-duanya tetap pada harga mati atau bahkan tidak saling mencalonkan dalam pilpres," kata pengamat politik yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Dr Muhadjir Effendy dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (7/5/2009).
Menurutnya, jika kedua partai masih tetap dengan skema A masing-masing, atau bahkan jika kedua partai tidak saling mencalonkan dalam pilpres, maka dua-duanya akan dalam posisi sulit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pilihan yang paling sesuai adalah PDIP tetap dengan Mega sebagai capres dan Prabowo menjadi cawapresnya. Atau seperti yang dibahas oleh berbagai pihak, yaitu Mega sebagai Ibu Bangsa dan kemudian mempercayakan Prabowo sebagai capres," ujar pria kelahiran Madiun 29 Juli 1956 ini.
Lalu jika demikian siapa cawapresnya? Apakah Puan? Muhadjir menjawab bisa Puan, bisa juga orang PDIP yang lain, seperti Sekjen PDIP Pramono Anung.
Muhadjir juga mengatakan bahwa semuanya masih berkembang, sulit untuk diprediksi, karena kemungkinan Gerindra tidak akan berubah skema. Dalam hal ini, jelas Muhadjir, PDIP dan Gerindra seharusnya tidak hanya memfokuskan pada koalisi capres-cawapres dan siapa yang menang, tetapi lebih memperhatikan pada konstituennya.
"Apakah dengan skema yang berubah, konstituen bisa tetap loyal? Mega dan Prabowo tidak boleh bersikukuh dengan skema masing-masing, mereka harus mempertimbangkan loyalitas konstituen," tegas Muhadjir.
(nvc/nrl)











































