"Dukungan JK-Win tidak akan solid seratus persen," ungkap pengamat politik M Qodari saat berbincang dengan detikcom, Rabu (6/5/2009).
Pada Pilpres 2004 lalu, tercatat tiga kader Golkar ikut bertarung dalam pilpres. Mereka adalah Jusuf Kalla, Wiranto dan Siswono Yudhohusodo. Golkar yang saat itu secara resmi mengusung duet Wiranto-Solahudin Wahid tidak mendapat dukungan signifikan dari mesin partai Golkar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu bukan rahasia umum lagi kalau banyak dari kader partai berlambang beringin ini justru berpaling dari kandidat yang mendapat nomor urut 1 itu, dan mengalihkan dukungan mereka kepada duet SBY-JK yang diusung koalisi Partai Demokrat, PBB dan PKPI.
Qodari menilai, keputusan Golkar yang membebaskan kadernya maju sebagai capres atau cawapres, semakin membuka peluang kejadian tahun 2004 itu terulang lagi.
Apalagi, manurut Qodari, sejumlah kelompok di internal Golkar yang tidak sreg dengan keputusan pencapresan JK mempunyai alasan yang kuat untuk tidak mendukung Jk-Win.
"Pak JK tahun 2004 juga menempuh jalur yang sama kan," tambah Qodari.
Dalam rapat pleno DPP Partai Golkar Selasa malam (5/5/2009),Β JK sebagai ketua umum partai membebaskan semua kadernya untuk bersaing dalam pilpres baik sebagai capres atau cawapres.
Kebijakan itu, kata JK, demi menghargai hak asasi. Namun ia menggarisbawahi bahwa mereka yang akan maju tidak boleh menggunakan atribut partai.
(Rez/anw)











































