Sebagian DPP PAN Pertanyakan Legitimasi Hasil Rakernas di Yogya

Sebagian DPP PAN Pertanyakan Legitimasi Hasil Rakernas di Yogya

- detikNews
Sabtu, 02 Mei 2009 23:37 WIB
 Sebagian DPP PAN Pertanyakan Legitimasi Hasil Rakernas di Yogya
Jakarta - Keputusan aklamasi Rakernas PAN untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) dan mengajukan Hatta Rajasa sebagai cawapres masih terhalang kerikil-kerikil cukup tajam. Sebagian personel DPP PAN mempertanyakan legitimasi Rakernas PAN di Yogya ini.

Salah satu hal yang disoroti adalah Rakernas PAN dianggap berlangsung tidak sesuai dengan hasil kesepakatan antara kubu Amien Rais dan kubu Soetrisno Bachir (SB) di Jakarta Jumat (1/5/2009) lalu. Rakernas di Yogya yang seharusnya tidak memutuskan hasil final, ternyata membuat keputusan final.

"Kita mengharapkan sesuai dengan pembicaraan dengan Pak Amien bahwa keputusan di Yogya ini open ended. Keputusan final ini akan ditentukan dalam Rakernas di Jakarta 9 Mei, karena kita harus serius memutuskan hal besar ini," kata Wasekjen DPP PAN Abd Rohim Gazali kepada detikcom, Sabtu (2/5/2009) malam. Rohim merupakan salah satu pihak yang kurang setuju bila PAN berkoalisi dengan Partai Demokrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, ada beberapa hal yang membuat legitimasi Rakernas PAN di Yogya ini menjadi lemah. "Salah satunya, undangan Rakernas memuat tanda tangan SB hasil scan, tanpa ada izin dari SB. Ini bahasa hukumnya, kriminal," kata Rohim.

Selain itu, dalam pelaksanaan Rakernas, ada pemotongan hak peserta, karena sama sekali anggota departemen DPP tidak diberi kesempatan bicara. "Saya sempat memprotes hal ini, tapi pimpinan sedang selalu memotong," ungkap Rohim yang mengikuti sidang Rakernas PAN hingga tuntas itu.

Dia merasa ada rekayasa dalam Rakernas PAN ini, termasuk pimpinan sidang. "Pimpinan sidang harusnya adalah Ketua SC, yaitu Hakam Naja. Tapi mengapa pimpinan sidang ini di-floor-kan? Karena semua sudah disetting, maka pimpinan sidang yang terpilih ya dari kelompok yang menginginkan koalisi dengan Demokrat," ujar dia.

Hal lain, lanjut dia, ada upaya mengunci tata tertib mengenai penyelenggaraan Rakernas yang bertentangan dengan AD/ART. "Forum Rakernas memutuskan Rakernas diadakan sekali dalam setahun, sehingga tidak ada Rakernas lainnya. Padahal di Anggaran Rumah Tangga PAN, disebutkan bahwa Rakernas dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun," tegas dia.

Rohim juga merasa bahwa proses politik di Rakernas PAN juga kurang bijaksana, terkesan diwarnai pengkhianatan. "Saya merasa bahwa ada upaya untuk memalukan SB di forum ini," ungkap dia.

Mengenai pengajuan cawapres, Rohim mengatakan, seharusnya PAN berani mengajukan cawapres lebih dari satu orang. "Saya bukan tidak setuju Hatta diajukan, tapi nama SB juga sudah disebut dalam pertemuan Yogya. Kalau cawapres yang diajukan hanya satu orang, kalau kemudian ditolak oleh capres, apakah kita tidak malu?" ujar dia.

Pemantauan detikcom, dalam Rakernas ini, SB terlihat hanya mengikuti pembukaan saja. Setelah itu, SB keluar ruang sidang. SB dan beberapa kubunya kemudian kembali ke Jakarta dengan pesawat carteran. Hingga pukul 22.30 WIB, rumah SB di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan masih tampak ramai. Beberapa mobil tampak diparkir di depan rumahnya. Ada kemungkinan SB dan para pendukungnya menguatkan barisan untuk menyikapi hasil Rakernas itu.

Sementara itu, salah seorang anggota DPR dari PAN mengakui bahwa Rakernas PAN di Yogya sudah final dan mengikat. "Kalau nanti ada yang mempermasalahkan, tidak akan bisa mempengaruhi hasil Rakernas. Kalau nanti kemudian digelar Rakernas lagi, hasilnya juga tidak berubah. Keputusan tadi diambil secara aklamasi," ujar dia.
(/asy)


Berita Terkait