"Golkar ini lucu karena di Rapimnas mencapreskan JK, elit DPP semua berjejer angkat tangan. Tiba-tiba Agung (Laksono) ngomong beda, Muladi berbeda, DPD beda. Ini seperti ngerjain Ketumnya, membingungkan orang di dalam dan di luar Golkar," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada detikcom, Rabu (29/4/2009).
Menurut Qodari, karena perpecahan ini, nilai politik Golkar lebih rendah dari nilai elektoralnya. Meskipun berdasarkan quick count Golkar menempati posisi ketiga terbesar, namun posisi politiknya lemah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kelemahan Golkar ini, Qodari beranggapan SBY tak bakal menggandeng Golkar meski partai mantan penguasa di Orde Baru itu ingin rujuk. "SBY tidak mungkin mau gandeng cawapres Golkar walaupun nanti Golkar balik lagi," analisisnya. (mpr/sho)











































