"Kita dukungannya hanya untuk capres, bukan cawapres. Ca (capres) dengan cawa (cawapres) beda. Kalau mau cawapres, saya hanya bilang ayo makan lontong sayur, sayur ya tetap saja sayur," kata Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Indonesia (PNBKI) Erros Djarot kepada detikcom, Senin (27/4/2009).
Menurut Erros, seorang tokoh itu dilihat dari konsistensi berpikir dan ucapannya. Jika seorang pemimpin itu sudah menyatakan sesuatu dan menyalahi pernyataannya, maka tokoh tersebut tidak layak lagi di sebut ksatria.
"Ksatria itu diukur dari omongannya. Kalau orang kirim doa untuk capres, begitu ganti niatnya, kan harus ganti doa yang lain. Harus cari kiai yang lain lagi," paparnya
Erros meminta para pimpinan parpol yang terbukti gagal dalam pemilu legislatif dengan indikasi perolehan suaranya menurun untuk legowo dan memberikan kepercayaan pada pemimpin baru.
"Pimpinan parpol yang partainya merosot legowo lah, Kalau para pemimpin masa lalu dipaksa lagi menjadi pemimipin masa depan, nggak kena. Semua ukur baju lah. Rasional lah," paparnya.
(yid/nwk)











































