Menanggapi wacana tersebut, Tyasno Sudarto mengaku siap bila memang Partai Golkar meminangnya sebagai Cawapres untuk mendampingi Jusuf Kalla. Asalkan, pengajuan namanya itu untuk kepentingan rakyat dan bangsa, serta memenangkan Partai Golkar dalam Pilpres nanti.
"Saya selalu siap, itu prinsip saya. Tapi saya kurang dan tidak senang dengan cara-cara menawarkan diri. Saya akan selalu siap, kalau itu untuk kepentingan bangsa. Seandainya diharapkan partai (PG) seperti itu, saya siap asal untuk kepentingan rakyat dan bangsa," kata Tyasno Sudarto kepada detikcom melalui telepon di Jakarta, Sabtu (25/4/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum...hanya saja, memang secara tidak resmi banyak teman-teman yang datang. Tapi secara resmi belum ada pembicaraan," jelas mantan Kepala BAIS TNI ini.
Terkait bermunculan tokoh dari kalangan berlatarbelakang militer yang cocok mendampingi JK dalam Pilpres nanti seperti M Yasin, Wiranto, Prabowo Subianto. Tyasno menyatakan, semua purnawirawan memiliki kesempatan yang sama, tapi Partai Golkar harus lebih jeli dan cermat untuk menentukan pilihannya untuk memasangkan dengan JK sebagai Cawapres.
Sebab, lanjut Tyasno, tidak semua purnawirawan yang memiliki latar belakang yang sama. Golkar harus memilih purnawirawan yang memiliki latarbelakang yang cukup baik, diterima lingkungannya dan punya jaringan yang cukup luas.
"Jaringan yang luas ini cukup penting, terutama untuk memenangkan dalam pertandingan di Pilpres nanti. Kalau asal copot begitu saja, tentunya tidak akan memenangkan pertandingan dan itu mubazir nantinya," tegasnya.
Tyasno juga mengritisi keterpurukan perolehan suara Partai Golkar dalam Pemilu 2009 kali ini, karena dianggap telah meninggalkan khitoh-nya (garis jalan). Sebab sejak kelahirannya, Golkar itu dibidani oleh kalangan TNI dan pejuang bangsa, sehingga muncul istilah ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar).
"Kekuatan Golkar saat itu di situ, sehingga menurut saya, bila kekuatan itu kembali, Golkar kembali ke khitohnya (jalannya) untuk membangun bersama para purnawirawan, birokrasi dan kader Golkar sendiri. Jadi, kalau Golkar menggandeng purnawirawan sebagai cawapres saya kira sudah tepat," pungkasnya.
(zal/mok)











































