Jelang Pilpres, Kyai NU Merapat di Langitan

Jelang Pilpres, Kyai NU Merapat di Langitan

- detikNews
Sabtu, 25 Apr 2009 19:34 WIB
Tuban - Menjelang Pilpres 2009, sejumlah ulama khos NU merapat ke pondok langitan, Tuban. Dalam pertemuan tersebut, selain pengasuh Ponpes Langitan, KH Abdullah Faqih, nampak hadir pula Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Mutawakil Allallah, KH Abdus Somad, MUI Jawa Timur dan sejumlah pengurus dari PCNU dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro serta sejumlah pimpinan parpol.

KH Abddullah Faqih, pimpinan Pondok Pesantren Langitan Tuban dalam sambutannya meminta agar pertemuan yang digelar di aula dalam pondok tersebut tidak dikaitkan dengan masalah politik.

"Pertemuan ini tidak akan membahas masalah pemilu, tidak akan membahas masalah pilpres apalagi menghitung suara," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan tersebut didasarkan pada keinginan untuk menyatukan kembali kader NU yang mulai tercerai-berai. Bahkan, Kyai Faqih menerangkan kalau sekarang ini banyak warga NU yang terseret dalam berbagai aliran seperti liberalisme ataupun sejenisnya.

"Oleh sebab itulah pada saat ini, kita kumpulkan semua kyai, kader yang ada di semua parpol untuk kembali menata NU ke depan," tandasnya.

Usai bertemu dengan ulama, Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan, liberalisasai pemikiran tidak dikenal dalam Mazhab NU. Karena NU sudah jelas ahlus sunnah wal jamaah.

"Sedangkan liberalisasi adalah pembongkaran nilai-nilai sesuai dengan pikiran atau intersetnya sendiri-sendiri," kata Hasyim.

Maraknya aliran liberal di tubuh NU, KH Hasyim mengaku jika hal itu lebih jauh akan dibahas dalam muktamar. Sedangkan soal pemilu, NU memandang harus tetap ada.

"Karena tanpa proses itu kekuasaan tidak lahir dan tanpa kekuasaan negara akan anarkhi sehingga penegakan kekuasaan itu wardlu kifayah NU," ujarnya.

Hanya saja, Hasyim menyoroti soal carut-marut yang menyertai dari pemilunya itu. Carut-marut ini bukan bagian langsung dari NU akan tetapi itu bagian dari politik dan kekuasan negara, sehingga NU juga
berjaga-jaga.

"Soal Capres, NU sudah mengeser hak pilihan tersebut dari institusi ke warga sehingga membolehkan warga NU untuk memilih siapa saja,"
tandasnya.

Sekarang ini, terang Hasyim, masyarakat sudah pandai karena itu masyarakat saat ini sudah mengerti kalau politik itu untuk alat bukan tujuan yang jadi tujuan tata nilai, keadilan dan kesejahtreraan.

(fat/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads