Salah satu partai yang cepat menyambut JK adalah PDIP. Partai berlambang kepala banteng moncong putih tersebut langsung menyambut baik putusan Rapimnassus Golkar yang memutuskan menalak tiga Partai Demokrat (PD).
Beberapa jam setelah putusan itu, Kamis 23 April 2009, PDIP langsung mengutus Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP Taufiq Kiemas, Puan Maharani, dan Pramono Anung untuk beranjangsana ke Slipi 2, markas Golkar di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Menteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
pertemuan teknis lagi. Jadi masih ada beberapa pertemuan," ujar JK usai bertemu dengan delegasi PDIP.
Dalam pertemuan malam nanti, JK mengatakan akan berbicara dari hati ke hati dengan bekas atasannya di Kabinet Gotong Royong, Megawati. Kabarnya, pertemuan empat mata tersebut membahas hal penting, yakni soal capres-cawapres.
Rencana "perkawinan" Golkar-PDIP dinilai sejumlah kalangan sangat strategis. Di atas kertas, kalau suara Golkar dan PDIP digabung bisa mencapai 30%. Modal ini sudah cukup untuk mengusung pasangan capres dan cawapres yang dipatok 20% suara nasonal atau 25% kursi DPR.
Jadi untuk memenangkan pertarungan melawan pasangan SBY, koalisi tersebut tinggal mencari tambahan dari parpol lain, seperti Hanura, Gerindra serta partai-partai gurem.
Tapi masalahnya, koalisi tersebut diprediksi bakal menuai kendala besar dalam urusan capres-cawapres. Sebab Golkar dan PDIP dipastikan akan ngotot menjadi RI 1. Apalagi jauh-jauh hari PDIP sudah mengusung Megawati sebagai capres. Sementara
Golkar diperkirakan akan tetap ngotot usung capres karena perolehan suara mereka lebih besar dari PDIP.
"Koalisi Golkar-PDIP bagus. Tapi akan bermasalah dalam penetapan capres. Sebab keduanya punya keinginan yang sama. Ingin jadi RI 1," jelas pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens.
Boni memprediksi, ada kemungkinan koalisi PDIP dan Golkar akan dilakukan di putaran kedua Pilpres. Sedang di putaran pertama, JK dan Megawati akan mencari pasangan masing-masing. Skenarionya, kata Boni, siapa pun yang masuk ke putaran kedua pilpres akan didukung. Seandainya pasangan JK yang masuk, maka PDIP akan memberikan dukungan. Begitu juga sebaliknya.
Lantas siapa pasangan Mega dan JK ke depan? Boni mengatakan, besar kemungkinan Megawati berduet dengan Prabowo, capres dari Gerindra. Soalnya komunikasi antar kedua tokoh tersebut sudah sangat intensif belakangan.
Boni kemudian menuturkan, dirinya mendengar kabar dari internal PDIP, utusan Mega, awal April lalu sudah dikirim untuk bernegosiasi dengan Prabowo di vila milik Prabowo yang terletak di daerah Bogor.
Utusan yang dikirim bukan berasal dari unsur pengurus DPP PDIP. Melainkan seorang konsultan yang dipercaya Mega untuk melakukan negosiasi. Dalam pertemuan tersebut ditandatangani sebuah kesepakatan, jika perolehan suara Gerindra di atas 12% maka Prabowo yang akan jadi capresnya dan PDIP akan jadi cawapres.
Sebaliknya, Gerindra perolehannya di bawah 12% maka capersnya dari PDIP sementara cawapres dari Gerindra. Dan ternyata dalam perhitungan sementara suara Gerindra hanya dikisaran 4%-5%. Jadi mau tidak mau Gerindra hanya dapat posisi cawapres.
"Tapi apakah kesepakatan tersebut punya kekuatan hukum atau hanya keputusan politik saya tidak tahu. Mungkin saja semua itu bisa berubah," terang Boni.
Tapi yang jelas, kata Boni, duet Mega-Prabowo sepertinya sudah di depan mata. Jadi sebaiknya Golkar berkoalisi dengan PPP atau PAN. Sebab dua partai itu sekarang belum menemukan arah yang pasti kemana mereka akan berkoalisi. Sebab di jajaran elitnya masih terjadi perbedaan pendapat.
Ketua DPP PPP Emron Pangkapi mengatakan, setelah kasus Golkar-Demokrat resmi berpisah, PPP akan mencermati gelagat koalisi yang akan dibangun. Ia pun berharap Golkar mau memprakarsai blok baru.
Namun mengenai sikap PPP sendiri, kata Emron, baru akan diputuskan nanti malam, Jumat 24 April, di Rapimnas. "Dalam Rapimnas, selain evaluasi turunnya suara PPP, juga akan dibicarakan soal koalisi, terutama soal capres dan cawapres. Tapi semua tergantung DPW," urainya.
Saat ini perolehan suara sementara PPP berada di kisaran 5,26%. Jika digabung suara Golkar 14,62%, maka syarat dukungan capres sudah semakin terbuka. Tinggal cari dukungan partai-partai kecil yang meraih suara di bawah 3%.
(ddg/iy)











































