Gerindra, Hanura & Parpol Kecil Gugat Manipulasi Suara KPU

Gerindra, Hanura & Parpol Kecil Gugat Manipulasi Suara KPU

- detikNews
Jumat, 24 Apr 2009 16:22 WIB
Gerindra, Hanura & Parpol Kecil Gugat Manipulasi Suara KPU
Jakarta - Partai Gerindra, Hanura dan sejumlah parpol kecil yang dinamakan forum antar parpol menggugat manipulasi perhitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Gugatan disampaikan dalam pernyataan sikap di Gerindra Media Centre, Jl Prapanca Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2009).

Sejumlah partai kecil yang menyatakan sikap yakni Partai Serikat Indonesia (PSI), Partai Republikan, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Partai Nasional Bung Karno (PNBK), Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Merdeka, Partai Matahari Bangsa (PMB) dan Partai Bintang Reformasi (PBR).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian Partai Kedaulatan, Partai Buruh, Partai Pakar Pangan, Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI), Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), Partai Barisan Nasional, Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Partai Nasional Indonesia Marhaenisme, dan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).

"Yang menjadi masalah dalam menampilkan perhitungan perolehan suara itu sendiri. Kenapa sampai sekarang belum sampai 10 persen? Sedangkan targetnya kemarin suara tertabulasi. Lalu ditutupnya pusat tabulasi lalu baru sampai 6,7 persen," kata Sekjen PKNU Idham Cholied.

Dalam acara tersebut, forum antar parpol menyatakan sikapnya yakni meminta segera dilakukan audit IT oleh auditor IT yang independen. Meminta KPK sesegera mungkin mengaudit anggaran pengguna IT yang sangat besar tapi tidak menghasilkan output yang maksimal. Mendesak KPU berlaku transparan, jujur, dan adil dalam mempublikasikan perolehan suara parpol berdasarkan data yang masuk dengan data yang sebenarnya.

Perbedaan data pada server KPU dengan pusat tabulasi nasional jelas sangat merugikan parpol peserta pemilu 2009. Informasi yang terdapat di pusat tabulasi nasional cenderung stabil dan sangat jelas menggiring opini publik yang tidak benar terhadap hasil pemilu.

"Belum lagi kalau kita mengembangkan kecurigaan politik kan wajar-wajar saja. Mengapa hasilnya bisa sama dengan lembaga survei? Ada apa ini?Keajaiban sekali. Linear begitu stabil. Tidak ada dinamikanya proses dari daerah," tegasnya.

(gus/iy)


Berita Terkait