Perangkat mahal berharga Rp 25 juta per unit yang semula dibanggakan KPU ini sekarang jadi kambing hitam. Karena itu pada Pilpres nanti alat pemindai itu takkan dipakai.
"Tidak menggunakan ICR lagi, karena sudah bermasalah," tutur Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun demikian, menurut Hafiz, tabulasi nasional secara online masih dimungkinkan akan digelar pada pilpres nanti.
"Kalau saya diadakan saja, tapi akan tetap harus dibenahi," ujar Hafiz.
Hafiz juga menjelaskan rencana pemindahan perangkat IT yang digunakan di pusat tabulasi nasional pemilu 2009 yang digelar di Hotel Borobudur.
"Di Borobudur akan dipindahkan bertahap, mudah-mudahan hari ini selesai, karena kontraknya sudah habis," imbuh Hafiz.
Menurut Hafiz, selain ICR yang kurang oke, kurangnya operator di daerah juga menyebabkan terlambatnya pengiriman data scanning.
"Kesalahan karena operator di daerah di samping jumlahnya sedikit juga kurang pintar," tutur Hafiz.
Hafiz menuturkan, perhitungan online dilanjutkan di media center KPU sampai 9 Mei.
(van/nrl)











































