Pada Senin (20/4/2009) pukul 16.00 WIB, SBY dan JK bertemu di suatu tempat. Dalam pertemuan itu, menurut sejumlah sumber detikcom, SBY sudah menolak JK secara halus.
Penolakan SBY terhadap JK ini juga seirama dengan pertemuan PD dan PKS pada malam hari setelah beberapa jam pertemuan SBY-JK. PKS dan PD bersepakat bahwa capres yang akan mendampingi SBY harus bukan ketua umum partai politik (parpol).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan ditolaknya JK, maka nama Akbar Tandjung kini makin menguat didengungkan. Salah seorang pengusaha yang berada di lingkaran Demokrat mengaku nama Akbar Tandjung memang masuk list cawapres SBY. "Bahkan, para pengusaha sudah sepakat bisa menerima Pak Akbar Tandjung," kata pengusaha asal Sumut kepada detikcom.
Atas dukungan ini, para pengusaha yakin SBY akan menggandeng Akbar. Sebab, saat ini Akbar masih menjadi tokoh kuat di Partai Golkar, meski tidak masuk dalam struktur. Selain itu, Akbar juga dianggap pas menjadi wapres, karena sudah makan asam garam di pemerintahan dan politik, serta paham masalah ekonomi.
Dengan pengalaman dan kemampuannya itu, Akbar dinilai cocok dengan syarat-syarat cawapres yang disampaikan SBY sebelumnya. Apalagi selama ini SBY dan Akbar juga sudah sering bertemu. Perpaduan SBY-Akbar yang berasal dari Jawa-luar Jawa juga akan bisa diterima masyarakat.
Namun, yang jadi masalah, jika Akbar yang dijadikan cawapres, apakah gerbong Golkar juga akan otomatis merapat ke Demokrat? Inilah yang sampai sekarang masih dipertimbangkan. Apalagi, ada informasi bahwa sejumlah pengurus Golkar telah merekomendasikan kepada pimpinan Golkar untuk merapat ke kubu PDIP dan mengusung JK sebagai capres.
(asy/nrl)










































