"Tabulasi ini kan kacau. Khawatirnya ini akan terulang di pilpres. Karena itu tabulasi KPU perlu diaudit oleh para pakar IT dari kampus-kampus seperti ITB, UGM, dan lain-lain," ujar praktisi IT dari ITB Dedy Syafwan kepada detikcom, Senin (20/4/2009) malam.
Menurut Dedy, audit yang dia maksud bukanlah audit formal menyangkut penggunaan keuangan, melainkan audit oleh para pakar tentang kelayakan penggunaan teknologinya. Elemen yang perlu diaudit seperti jaringan, software, SDM, dan lain-lain.
"Harapannya, untuk IT pilpres benar-benar sudah didukung oleh seluruh komponen IT di seluruh Indonesia. Tanpa adanya dukungan moril ini, IT pilpres akan sulit bagi KPU," tutur Dedy.
Bentuk konkret audit itu, lanjut dia, berupa seminar 2-3 hari yang melibatkan para pakar IT dari seantero negeri. Mereka dikumpulkan untuk memberi masukan agar IT pilpres bisa berjalan lancar.
"Misalnya jika ICR yang terbukti gagal tidak bisa dipakai lagi, lantas solusi dari pakar seperti apa," ujar dia memberi contoh.
Intelligent Character Recognition (ICR) merupakan teknologi yang digunakan KPU untuk tabulasi pileg. Dengan teknologi ini, hasil scanning formulir C1-IT yang merupakan rekapitulasi perolehan suara di TPS ditafsirkan ke dalam bentuk angka dan huruf untuk kemudian dikirim ke pusat dan ditayangkan di tabulasi.
Dengan audit yang berbentuk seminar ini, imbuh Dedy, diharapkan muncul solusi bagi IT KPU yang sudah berwujud cetak biru (blueprint) yang bisa dijadikan pedoman bagi KPU. "Inilah yang harus dikerjakan untuk pilpres sehingga tidak terjadi kasus seperti di pileg," tandas Dedy.
(sho/nrl)











































