Daniel Sparinga, pengamat politik dari Universitas Airlangga, mengatakan hal tersebut saat talkshow "Peran dan Fungsi DPR, Harapan dan Kenyataan" di Pusat Tabulasi Nasional KPU di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Minggu (19/4/2009).
"Produk dari persoalan pengangguran dan kemiskinan yang masih melilit negeri ini melahirkan banyak fenomena seperti salah satunya melihat anggota dewan itu sebagai suatu pekerjaan, ini merupakan produk peradaban yang bermasalah," kata Daniel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kuncinya adalah transformasi," tegasnya.
Tetapi adanya dua budaya yang sama kuat dalam masyarakat Indonesia, yaitu budaya yang tampak modern dan budaya tradisional, justru menghasilkan dualisme dalam masyarakat. Sehingga transformasi menjadi tidak mudah untuk dilakukan.
Sementara itu, Lili Romli pengamat politik dari LIPI, yang juga menjadi pembicara dalam talkshow tersebut, mengatakan bahwa kualitas para caleg pada pemilu kali ini seharusnya dapat melahirkan anggota-anggota dewan yang lebih memiliki kapasitas untuk menjalankan fungsi-fungsi anggota dewan yang sesungguhnya.
Tetapi yang menjadi masalah adalah apakah intelektualitas mereka miliki bisa seiring dengan kapabilitas untuk menjalankan tugas, terlebih lagi caleg yang berkualitas belum tentu dipilih oleh rakyat.
"Pemilu 2009 tidak akan melahirkan anggota dewan yang lebih baik dari Pemilu 2004. Tetapi terlepas dari hal ini, kita optimis ke depan, anggota dewan yang baru haruslah bisa membangun sistem pemilu yang lebih baik," tegas Lili Romli.
(nvc/rdf)











































