Perolehan suara Golkar yang hanya mendapat 14 persen berdasarkan hasil quick count, membuat partai beringin berhitung. Target mendulang suara hingga 30 persen ternyata tak terbukti. Fakta politik yang terjadi ternyata tak seperti perkiraan semula.
"Fakta politik yang terjadi tidak seperti perkiraan semula. Awalnya kita targetkan 30 persen. Di Rapimnas tahun 2008 lalu juga dikatakan bahwa Golkar akan mengusung capres dan cawapres sendiri, jika target terpenuhi," jelas Ketua DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai.
Karena kenyataaan berbicara lain, 'haluan' Golkar pun berubah. Menurut Yorrys, rapat konsultasi yang digelar Kamis malam untuk menyikapi fakta politik yang terjadi. Perolehan suara yang turun harus segera disikapi dengan penyamaan persepsi jelang Rapimnasus. "Rapat konsultasi untuk menyikapi fakta politik yang terjadi. Kita sudahi saling menyalahkan. Dan kita samakan persepsi jelang Rapimnasus," terangnya.
Dengan hitung-hitungan mendapat posisi di pemerintahan, Golkar akhirnya cenderung mengusung cawapres, dengan ancang-ancang memasangkannya dengan partai yang berpeluang menang. Jika berhitung peluang, bidikan yang paling logis adalah Partai Demokrat, yang mengusung SBY sebagai capres.
Nah, jika nantinya Golkar hanya akan mengusung cawapres, siapakah yang bakal diusung? "Kan ada 7 nama yang telah dijaring. Nanti akan ditentukan pada Rapimnasus nanti," ucap Yorrys. 7 Nama yang disaring yakni Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Sultan Hamengku Buwono X, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Agung Laksono, dan Fahmi Idris.
Dari 7 nama ini, ada 4 nama yang dinilai punya kans untuk dipilih oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Mereka adalah JK, Akbar Tandjung, Sultan dan Aburizal Bakrie. Bahkan usai jeboloknya suara Golkar, wacana munculnya nama Akbar kian santer.
Jika pertarungan merebut posisi cawapres diperebutkan dengan voting pada Rapimnasus nanti, akan banyak faktor yang menentukan. Bukan hanya pengaruh dan lobi, namun juga kemampuan finansial turut menjadi penentu.
(gun/nrl)











































