Emron didampingi 2 penasihat hukum DPP PPP melaporkan Bachtiar ke Sentra Pelayananan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (17/4/2009).
"Saya siap menantang Pak Bachtiar Chamsyah. Saya ingin laporkan balik bahwa beliau yang justru melakukan perbuatan tidak menyenangkan," kata Emron.
Emron pun tetap bersikukuh dengan tuduhannya terhadap Bachtiar yang dianggap sebagai penggembos suara itu benar. Dia pun lantas menunjukkan bukti-bukti tersebut.
"Saya bawa fakta-fakta. Pertama, beliau tidak minta izin cuti kampanye. Kedua, PPP punya kesempatan melakukan kampanye 66 kali putaran, tapi dia tidak mau ikut, sekali pun dia tidak ikut. Itu yang namanya penggembosan," jelasnya.
Menurutnya, dengan absennya Bachtiar dari kampanye politik, hal tersebut bisa ditiru kader-kadernya yang di bawah. Hal itu, kata dia, jelas akan menggembosi suara PPP.
"Bagaimana yang di bawah mau turun kalau bosnya saja tidak mau turun ikut berkampanye," ujar Emron.
Menurutnya, alasan Bachtiar tidak ikut kampanye karena tidak mendapat cuti adalah suatu hal yang aneh. Bachtiar dinilai tidak punya political will dan tidak punya tanggung jawab terhadap partainya.
"Menteri yang lain dapat izin. Kok aneh dia tidak dapat izin. Itu berarti dia tidak punya political will untuk membesarkan nama partainya," tuturnya.
Emron yang juga Ketua Bappilu ini kecewa atas tidak turunnya Bachtiar dalam kampanye. Padahal, dengan tampilnya Bachtiar dalam kampanye dapat ikut menambah perolehan suara PPP.
"Saya kecewa. Dia punya basis-basis politik yang kuat. Di Aceh itu kan tempat kelahirannya, di Sumatera Utara juga di Sumatera Barat," katanya.
Emron juga menganggap, Bachtiar hanya menjadikan PPP sebagai kuda
tunggangnya saja tatkala dia hendak menjadi orang besar. Sebagai Ketua MPP, menurutnya, Bachtiar wajib berkampanye.
"Sistem kita kan partnerialis, itu wajib hukumnya. Karena dia bisa jadi menteri, duduk di DPR itu karena dia di PPP," terangnya
Dengan tidak turut sertanya Bachtiar dalam kampanye, menurutnya telah menurunkan suara PPP sekitar 2 persen. "Dulu suara kita 8,2 persenan, sekarang hanya sekitar 6,2 persenan," pungkasnya.
(mei/aan)











































