"Kalau ada masalah kecurangan pemilu, selesaikan secara UU melalui proses hukum. Jangan teriak-teriak pemilu curang," kata aktivis pro demokrasi Bara Hasibuan dalam jumpa pers di gedung Widjojo Center, Jl Sudirman, Jakarta Kamis (16/4/2009).
Bara menilai para tokoh yang tergabung dalam 'Kelompok Teuku Umar' tidak konsisten dengan pergerakan mereka. Sebabnya, meski memprotes hasil pemilu 9 April lalu, mereka tetap menggunakan hasil quick count sebagai pintu masuk bagi langkah koalisinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, politisi Golkar Marzuki Darusman meminta agar 'Kelompok Teuku Umar' ini legowo menerima hasil pemilu 9 April lalu. Sikap inilah yang paling efektif untuk membangun bangsa tanpa mengorbankan rakyat.
"Kemarin ada kelompok perorangan yang mengatakan pemilu curang. Mereka mengatakan itu harus disertai bukti nyata. Masalah yang terjadi kan protesnya kelompok Teuku Umar dengan pihak pemerintah. Jangan kelompok Teuku Umar memonopoli itu, tapi berikan ruang warga lain," pinta Marzuki.
Hal yang sama juga disampaikan Agus Widjojo. Menurutnya, pemilu 9 April lalu sudah berjalan fair dan terbuka. Memang diakui dia, masih ada kekurangan terkait masalah DPT, namun hal itu tidak mempengaruhi keabsahan pemilu.
"Jangan hanya mempersoalkan hasil pemilu. Kita harus berfikir dalam konteks demokrasi, pemilu sudah berjalan fair," pungkasnya.
Sebelumnya, dalam menyikapi masalah DPT dan dugaan kecurangan pemilu 9 April lalu, Sejumlah pimpinan parpol berkumpul di rumah Megawati, Jl. Teuku Umar. Tokoh-tokoh yang hadir antara lain, Megawati, Gus Dur, Prabowo Subianto, Wiranto, Sutiyoso dan beberapa pimpinan parpol kecil. (Rez/yid)











































