Tim ini beranggotakan antara lain, Hadi Utomo (Ketua), Marzuki Alie (Sekjen DPP PD), Jero Wacik, Haryono Isman, Anas Urbaningrum, Syarif Hasan, Yahya Sadjawiria (Ketua Bapilu PD), Andi Mallarangeng, serta Ruhut Sitompul.
Saat ini tim tersebut sedang sibuk menyeleksi nama cawapres yang akan disandingkan dengan SBY. "Salah satu tugas mendesak yang saat ini kami lakukan adalah menggodok cawapres. Sebab pertengahan Mei sudah pendaftaran capres dan cawapres," kata anggota Tim 9 Ruhut Sitompul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruhut menyebut, kandidat cawapres dari Golkar yang saat ini sedang digodok adalah, Jusuf Kalla (JK), Akbar Tandjung, Agung Laksono, Muladi, dan Surya Paloh. "Kita akan ambil cawapres dari Golkar supaya pemerintahan dan parlemen bisa kuat," ungkap Ruhut.
Dari nama-nama tersebut kemudian dikerucutkan lagi menjadi dua kandidat yang akan disodorkan ke SBY. Namun Ruhut tidak mau menyebut siapa dua kandidat yang sedang ditimang-timang sebagai cawapres.
Kabar yang beredar di kalangan internal Golkar, dua nama yang berpeluang menjadi cawapres SBY adalah Jusuf Kalla (JK) dan Akbar Tandjung (AT). Keduanya merupakan tokoh yang berpengaruh di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Namun sumber detikcom Golkar mengatakan, kans AT saat ini jauh lebih berpeluang untuk menggeser JK di bursa cawapres SBY. Soalnya, JK punya catatan buruk karena sempat menyatakan maju sebagai capres.
"SBY saat ini sudah tidak respek dengan JK. Itu sebabnya saat JK datang ke Cikeas, Senin, 13 April, SBY mengalihkan pebicaraan saat JK menyinggung soal koalisi. SBY lebih memilih membahas masalah DPT dan proses pemilu," katanya.
Sumber tersebut melanjutkan, untuk saat ini SBY punya alasan lain untuk menolak JK, yakni peryataan PKS yang menyatakan ingin mundur dari koalisi jika SBY kembali bersanding dengan JK.
"Selain pernah dikecewakan JK, SBY juga melihat JK tidak punya pengaruh yang signifikan di Golkar. Buktinya saat mereka memerintah, banyak elit Golkar di parlemen yang menyerang pemerintahan SBY-JK," jelasnya.
Karena pertimbangan-pertimbangan tersebut SBY diisukan lebih sreg ke AT. Mantan Ketua Umum Golkar ini dinilai lebih bisa menstabilkan mesin politik Golkar. Apalagi sosok Akbar sangat dihormati DPD Golkar hingga ke akar rumput.
Data yang dikumpulkan tim peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), yang dirilis Senin, 13 April 2009, menyebutkan, sosok AT dinilai paling cocok sebagai cawapres SBY. Sebab AT merupakan tokoh Golkar yang paling dikenal di akar rumput. "Selain berpengaruh di Golkar, AT juga memiliki pemilih yang loyal," papar Kepala Divisi Penelitian LP3ES Fajar Nursahid.
Dari survei tersebut, LP3ES memprediksi Akbar bisa jadi kuda hitam dalam penjaringan cawapres SBY, yang akan diumumkan pada 25 April mendatang.
Menguatnya peluang AT, juga sempat dikatakan fungsionaris Golkar Zainal Bintang. Menurutnya, posisi JK saat ini semakin terancam karena AT telah memobilisasi sejumlah DPD-DPD terkait cawapres.
"Beberapa DPD saat ini banyak yang mengusung AT. Bahkan ada kabar DPD akan mendorong Munaslub untuk meminta pertanggungjawaban JK karena Golkar kalah di pileg," ujar Bintang.
Salah satu DPD yang mendukung majunya AT sebagai cawapres adalah DPD Riau. Wakil Ketua DPD Golkar Riau Yulisman saat dihubungi detikcom mengatakan, secara pribadi dirinya sangat mendukung AT menjadi cawapres. Sebab kata Yuliswan, Akbar lebih piawai membina Golkar dibanding JK.
Anjloknya perolehan suara Golkar dari 20 persen menjadi 14 persen jadi pertimbangan kenapa DPD banyak yang menginginkan adanya perubahan di struktur Golkar, termasuk cawapres Golkar yang akan disandingkan SBY. "Saya lebih memilih Akbar sebagai cawapres dibanding Jk. Tapi ini peryataan pribadi ya," kata Yuliswan.
Kuatnya pengaruh AT di DPD juga diakui Ruhut Sitompul, bekas kader Golkar yang menyeberang ke PD. "Saya ini bekas kader Golkar. Jadi saya tahu dapur partai itu," jelas Ruhut bersemangat.
Ruhut yang kini menjadi anggota tim yang menggodok cawapres untuk SBY mengaku, secara pribadi dirinya lebih respek jika AT menjadi cawapres dibanding JK. Pertimbangannya, Akbar sangat baik mengelola partai dibanding JK. Sehingga soliditas partai bisa terjaga.
Namun soal siapa yang nantinya terpilih, aku Ruhut, semuanya terserah SBY. Sebab tim 9 hanya bertugas memberikan rekomendasi dan masukan. Sedangkan keputusan sepenuhnya ada di tangan SBY.
(ddg/iy)











































