Golkar pun tak terima dengan pernyatan ini. Diam-diam Golkar diduga menggalang lobi-lobi agar SBY tidak mengajak PKS dalam koalisi jika usulan duet SBY-JK disetujui.
"Akibat pernyataan Anis itu, banyak elit Golkar marah. Karena merendahkan kami betul itu. Mereka banyak yang mendesak, kalau duet SBY-JK dapat terwujud, tidak usah ngajak-ngajak PKS," kata sumber detikcom, Kamis (16/4/2009).
Pernyataan Anis ini memang cukup membuat elit Partai Golkar 'merah telinga'. Berbagai komentar di media pun bermunculan merespons Anis. Komentar itu disampaikan dari yang bernada santai sampai sinis.
Wakil Sekjen DPP Golkar Rully Chairul Azwar misalnya mengangap pernyataan Anis tidak ada manfaatnya untuk ditanggapi. "Emang gue pikirin," kata Rully dengan nada sinis.
Hal berbeda ditunjukkan oleh Ketua DPP Golkar Firman Subagyo yang meminta PKS bersikap arif dalam bermain politik. Sistem ancam mengancam bukan zamannya lagi di era demokrasi terbuka saat ini.
"Sudahlah, kalau mau bermain, bermainlah secara fair. Tidak usah lah pakai ancam-mengacam. Bukan zamannya lagi main begitu sekarang, Bung. Negara kita ini bukan negara preman," katanya keras.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono juga ikut mengomentasi statemen Anis. Menurutnya sebagai sesama parpol tidak selayaknya mengeluarkan kata ancaman seperti itu.
Sumber detikcom di internal PKS menjelaskan statemen Anis itu membuat masalah baru dan menuai banyak kritik. Bahkan statemen itu dibahas khusus dalam rapat internal PKS. Beberapa pengurus yang tidak setuju dengan pernyataan Anis itu mencoba meluruskan di media dengan bahasa yang lembut agar tidak terkesan ada perbedaan di internal PKS.
Anggota Majelis Syuro PKS Mutammimul 'Ula menjelaskan yang dimaksud Anis dalam pernyataanya bukanlah menolak JK dan Golkar, tetapi PKS ingin pemerintahan baru nanti lebih kuat tanpa diganggu kepentingan politik parpol.
"PKS tidak menolak Jusuf Kalla (JK) sebagai wapres, tapi ingin koalisi yang mampu menciptakan pemerintahan efektif," paparnya.
Tamim menambahkan ucapan Anis tersebut sebagai wujud aspirasi internal partai yang menginginkan format koalisi baru. Tamim menilai, pemerintahan SBY-JK yang dijalankan selama 5 tahun belakangan dinilai tidak efektif.
"Fokus terpenting koalisi ke depan adalah membentuk pemerintahan yang efektif dan bukan soal memperkuat koalisi saja," jelasnya.
Ketua DPP PKS Zulkieflimansyah juga ikut 'meluruskan' pernyataan Anis. Hal ini dilakukan agar pernyataan itu tidak dianggap sebagai sikap partai. Menurutnya PKS belum memutuskan sikap politik seperti yang disampaikan Anis
"Kita menyerahan kepada SBY. Kalau Golkar ikut dan semua mitra koalisi sepakat dengan Pak JK, saya kira PKS akan setuju dan ikut," kata Zul kepada detikcom, Selasa (14/4/2009).
Sumber detikcom menjelaskan bahwa rivalitas antara PKS dan Golkar ini memang sudah sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena Golkar tidak ingin melihat PKS besar. Sebaliknya, PKS juga tidak ingin melihat Golkar sebagai satu-satunya partai penerus Orde Baru menjadi penguasa lagi.
Selain itu, rivalitas kedua partai untuk sama-sama merapat ke SBY juga disebabkan adu strategi jitu di antara keduanya untuk persiapan Pemilu 2014. Hal ini disebabkan karena pada Pemilu 2014 nanti, SBY sudah tidak bisa lagi mancalonkan diri sebagai capres. Pengaruhnya, wakil presiden SBY merupakan figur kuat yang berpeluang menggantikan SBY sebagai presiden. Tak heran kedua parpol ini berebut merapat ke SBY.
"Karena itulah, rivalitas kedua partai ini benar-benar mengakar sekarang. Selain itu, tentu aspek ideologi juga mempengaruhi," pungkas sumber itu.
(yid/nrl)











































