"Kalau investor itu tidak suka mengambil risiko. Jadi mereka lebih suka dengan incumbent," kata pengamat ekonomi politik dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, saat dihubungi detikcom, Rabu (15/4/2009).
Menurut Aviliani, dukungan terhadap SBY-JK disebabkan oleh kestabilan makro yang telah diciptakan duet tersebut dalam pemerintahan 5 tahun ke belakang. Belum lagi pelaksanaan Pemilu 9 April lalu yang relatif aman akan menambah derasnya dukungan itu. "Sentimen pasar saat itu positif," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar senang banget dengan Sri Mulyani karena berbagai kebijakannya seperti pemotongan anggaran, transparansi dan pembersihan departemen. Namun pasar tetap akan condong kepada incumbent, SBY-JK," ujarnya.
Belum lagi, lanjut Aviliani, hitung-hitungan politik juga akan membuat pasangan SBY-Sri Mulyani sulit terealisasi.
"Demokrat tentu lebih memilih orang partai, agar terbentuk koalisi yang kuat di parlemen. Ini untuk mengamankan jalannya pemerintahan," pungkasnya.
(lrn/iy)










































