Bukan Tipikal Pekerja & Dari Jawa, HNW Kurang Disuka

Siapa Pendamping SBY?

Bukan Tipikal Pekerja & Dari Jawa, HNW Kurang Disuka

- detikNews
Rabu, 15 Apr 2009 14:00 WIB
Bukan Tipikal Pekerja & Dari Jawa, HNW Kurang Disuka
Jakarta - Situs jejaring sosial facebook kini jadi alternatif masyarakat menyatakan pendapat serta dukungannya dalam pesta demokrasi. Setelah diramaikan dengan "Say No To Megawati". Belakangan ini, di situs itu muncul sebuah ajakan dukungan terhadap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Hidayat Nur Wahid (HNW), sebagai capres-cawapres mendatang.

Dalam situs itu disebutkan, alasan dukungan terhadap SBY-HNW lantaran dua tokoh tersebut bisa saling mengisi dalam memimpin Indonesia kelak. "Hidayat adalah sosok yang berasal dari sipil dan religius. Sementara SBY merupakan sosok nasionalis-militer," sebut Slamet, admin komunitas tersebut.

Sejauh ini Komunitas pendukung duet SBY-HNW via facebook telah meraih dukungan hingga lebih dari 24 ribu orang hanya dalam tempo 5 hari. Dan mereka menargetkan paling tidak bisa mendapat dukungan hingga 1 juta orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama HNW saat ini memang ramai dibicarakan sebagai tokoh alternatif cawapres SBY. Dengan catatan, jika capres dari Partai Demokrat (PD) tersebut urung berduet dengan tokoh dari Golkar, seperti JK atau Akbar Tandjung.

Tapi banyak pihak menyatakan kalau peluang HNW untuk maju sebagai cawapres sangat kecil. "HNW baru bisa menjadi cawapres jika SBY tidak jadi berkoalisi Golkar," jelas pengamat politik Lili Romli.

Lagipula, kata Romli, kalau SBY disandingkan dengan HNW berisiko ke PD. Partai yang saat ini menduduki puncak klasemen perhitungan sementara di Pileg 2009, akan semakin kerdil di mata masyarakat. Sebab masyarakat akan melihat kalau SBY dikelilingi kelompok Islam. Sedangkan di masyarakat Indonesia masih terjadi parpol Islam phobia.

Tantangan lainnya, lanjut Romli, partai-partai Islam lainnya, yang jadi mitra koalisi PD akan merasa cemburu. "Karena ada anggapan sesama partai Islam dilarang saling mendahului. Sehingga bisa mengganggu jalannya koalisi," ujarnya.

Dengan risiko-risiko seperti itu PD kemungkinan besar tidak akan gegabah menggandeng HNW sebagai cawapres. Apalagi belakangan PKS melakukan komunikasi politik yang tidak baik dengan mengancam mundur dari koalisi jika PD menggaet JK sebagai cawapres.

Sekjen PKS Anis Matta, Senin 13 April, mengatakan, PKS akan menarik dukungan kepada SBY jika berduet dengan JK. Alasannya, JK dan Golkar telah berkhianat tapi setelah kalah masih menginginkan posisi semula di pemerintahan jika kelak terpilih.

Ancaman PKS tersebut tentu saja membuat gerah sejumlah elit Golkar sebagai mitra koalisi strategis PD. "Koalisi antara PD dengan Golkar jauh lebih menguntungkan dan bermanfaat dibanding PD berkoalisi dengan PKS," tegas Romli.

Soalnya, keberadaan Golkar di dalam koalisi yang dibangun PD, bisa mengcounter serangan-serangan yang dilakukan lawan politik PD karena Golkar merupakan partai senior yang punya banyak pengalaman.

Pengamat politik J. Kristiadi juga punya pendapat serupa. Menurutnya, ancaman yang dilancarkan PKS sudah bisa dijadikan pijakan PD untuk tidak mengusung HNW sebagai cawapres.

"Belum apa-apa sudah mengancam. Apalagi nanti kalau pemerintahan sudah di tengah jalan," ujar Kristiadi kepada detikcom.

Bukan itu saja, Kristiadi juga melihat, jika SBY berduet dengan HNW akan terjadi sentralistik kepemimpinan nasional. Karena keduanya sama-sama dari Jawa. Sementara masyarakat Indonesia heterogen.

Kelemahan HNW jika menjadi cawapres SBY juga diungkapkan pengamat politik Andrinof Chaniago. Kata dia, HNW bukan tipikal pekerja, sehingga kalau diduetkan dengan SBY, akan tidak baik bagi jalannya pemerintahan.

"SBY perlu didampingi tokoh yang punya kesigapan dan kemampuan manajerial yang baik. Sehingga bisa saling mengisi di pemerintahan mendatang," harap Chaniago.

Namun sumber detikcom di PKS mengatakan, partai dakwah tersebut untuk saat ini tidak kepincut mengejar posisi cawapres. Sebab yang jadi fokus PKS sebisa mungkin duduk di kabinet mendatang. Sedangkan cawapres atau capres baru dipikirkan saat Pemilu 2014.

"Kami melihat kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk mengusung cawapres. Mungkin niat itu akan kami lakukan di Pemilu 2014 mendatang," ujar sang sumber.
(ddg/iy)


Berita Terkait