JK Bisa Diajak Kompak, Tapi Suka Kebablasan

Siapa Pendamping SBY?

JK Bisa Diajak Kompak, Tapi Suka Kebablasan

- detikNews
Rabu, 15 Apr 2009 10:59 WIB
JK Bisa Diajak Kompak, Tapi Suka Kebablasan
Jakarta - Menjelang tengah malam, Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK) meluncur seorang diri ke kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY di Cikeas, Bogor. Tidak ada satu pun petinggi Golkar yang ikut serta dalam pertemuan antara SBY-JK yang berlangsung Senin malam, pukul 22.00 WIB tersebut.

Namun keduanya menutup rapat hasil pertemuan dua pasangan pemimpin RI yang sempat retak itu. "Tidak ada yang luar biasa dari pertemuan itu," kata SBY kepada wartawan, Selasa 14 April, lalu.

Sikap JK juga setali tiga uang. Sang saudagar yang biasanya ceplas-ceplos saat ditanya wartawan kali ini memilih bungkam. JK menutup rapat kaca mobilnya saat beranjak dari Cikeas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Informasi yang diperoleh detikcom dari orang dekat JK, pertemuan dua pentolan partai tersebut untuk memperbaiki hubungan yang sempat retak sejak Februari lalu.

Peryataan JK bersedia maju menjadi capres, pertengahan Februari lalu, memang mau tidak mau membuat pasangan ini nyaris putus. Soalnya, jika JK maju sebagai capres sama saja mengibarkan bendera perang dengan SBY yang sejak jauh-jauh hari siap-siap kembali mencalonkan diri sebagai presiden kedua kalinya.

Hubungan keduanya semakin renggang seminggu sebelum pencontrengan. Beberapa kali telepon dari SBY tidak digubris JK.

"Seminggu sebelum Pileg, SBY tiga kali berusaha mengontak JK tapi tidak pernah diangkat. Ini karena move politik dari beberapa elit Golkar. Termasuk dari luar Golkar yakni PDIP," jelas sang sumber.

Tapi sikap JK kemudian berubah drastis ketika dari perhitungan cepat perolehan suara ternyata PD mampu mengungguli Golkar. PD berhasil meraih posisi puncak perolehan suara sementara dengan kisaran 20%-21%. Sementara Golkar harus berjibaku dengan PDIP di kisaran 14%-15%.

Komunikasi keduanya kemudian terjalin ketika JK memberikan ucapan selamat kepada SBY, usai salat Jumat. Setelah ituΒ  JK pun berencana bertemu secara rahasia dengan SBY di Cikeas, Minggu sore. Tapi sayangnya, pertemuan itu akhirnya bocor. Sejumlah wartawan mendadak ramai di Cikeas menanti kehadiran JK.

Alhasil JK yang sudah dalam perjalanan menuju Cikeas langsung balik arah. "Pak Mohon maaf, saya sudah siap ke Cikeas. Tapi sesuai permintaan bapak, jangan sampai ramai-ramai karena ada wartawan. Apa kita tunda saja," jelas JK kepada SBY seperti ditirukan orang dekatnya kepada detikcom.

Permintaan JK tersebut kemudian disetujui SBY. "Pak JK kalau gitu pertemuan kita tunda saja. Tapi pertemuan kita akan baik atau tidak di mata para pengurus Golkar?" tanya SBY.

JK kemudian meyakinkan SBY kalau dirinya sudah mendapat mandat dari DPP Golkar untuk melakukan komunikasi politik kepada semua pihak, termasuk SBY dan PD. "Nanti malam ( Minggu, 12 April 2009) kebetulan akan ada pertemuan dengan 40 pengurus DPP Golkar," jawab JK memastikan.

Dalam rapat harian DPP di kediaman JK di Jl Mangunkarso itu, para petinggi Golkar mengisyaratkan akan kembali menjalin koalisi dengan PD. Ketika persetujuan sudah dikantongi, JK pun merasa lebih plong. Malam itu jua ia mengontak SBY untuk bertemu Senin malam di Cikeas.

Sumber detikcom melanjutkan, tapi dalam pertemuan itu hanya membahas penjajakan koalisi. Belum ada pembicaraan soal kemungkinan mereka akan berduet kembali. Karena SBY masih menanti kebulatan suara di Golkar.

"Yang diinginkan SBY koalisi dengan Golkar. Bukan dengan tokohnya. Harapannya koalisi ke depan bisa permanen, baik di pemerintahan maupun legislatif," ungkap sumber tersebut.

Belum adanya kepastian koalisi membuat nasib JK maju kembali sebagai cawapres SBY menggantung. Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI)Β  Zulfikar Ghazali mengatakan, yang jadi pertimbangan SBY, di Golkar JK bukan satu-satunya calon yang bisa diusung partai tersebut.

Karena, lanjut Ghazali, Golkar memiliki beberapa kandidat sekelas JK yang siap disandingkan dengan SBY. Sebut saja Akbar Tandjung, Muladi, maupun Marzuki Darusman. "Jadi SBY melihat, JK banyak pesaingnya. Sehingga sampai saat ini SBY masih menunggu kebulatan suara Golkar," ujarnya.

Namun di antara tokoh-tokoh Golkar yang ada saat ini, hanya JK yang dinilai bisa kompak dengan SBY. Sementara tokoh lainnya, seperti Akbar Tandjung maupun Muladi belum tentu bisa sekompak JK bila berdampingan dengan SBY.

"JK tipikalnya suka menyelesaikan pekerjaan. Dia progresif dan bagus untuk menyelesaikan masalah. Sementara SBY sifatnya menjaga kerangka kepemimpinan. Jadi keduanya klop," jelas pengamat politik Andrinof Chaniago.

Tapi kekurangannya, kata Chaniago, sebagai seorang pengusaha Jk orangnya praktis sehingga bisa berbalik arah sewaktu-waktu. Ditambah lagi JK tidak pernah berpikir secara politis dan bicaranya suka kebablasan.

Mudahnya JK berubah haluan tentu saja membuat SBY harus lebih hati-hati untuk memilih JK kembali sebagai wakilnya di pilpres. "Apalagi SBY punya pengalaman tidak mengenakan dengan niat JK yang mau maju sebagai capres," pungkas Chaniago.
(ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads