"Kami akan terus mendesakkan agar Rapimnassus mendatang DPD Tingkat II juga diundang sehingga Rapimnassus itu benar-benar berjalan demokratis, mampu menyerap aspirasi konstiuen di bawah dan tidak sekadar menjadi alat legitimasi manuver sedikit elit partai yang pragmatis," ujar Kusraharjo, Selasa (14/4/2009).
Kus berharap melalui Rapimnassus mendatang Partai Golkar mempertahankan keputusan mengajukan capres dari partainya sendiri. Apalagi keputusan itu telah direalisasikan dengan penjaringan nama yang dilakukan di tingkat DPD. Masing-masing DPD diwajibkan mengirimkan tujuh nama sesuai rankingnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2004 Partai Demokrat hanya bermodalkan 7 persen suara nasional untuk mendorong Pak SBY maju sebagai capres. Terbukti mereka berhasil karena seluruh elemen di dalam percaya diri dan mampu menjalin komunikasi yang baik. Mengapa saat ini partai besar seperti Golkar tidak percaya diri untuk itu," ujarnya.
Kusraharjo justru menduga keputusan Golkar mengajukan capres sendiri beberapa waktu lalu hanya permainan sekelompok orang dan ketika perolehan suara menurun kini mereka kembali mempengaruhi Kalla kembali berpasangan dengan SBY.
"Itu ulah segelintir elit partai yang pragmatis dan oportunis. Mereka mempertaruhkan nama besar partai dan mempermainkan ketua umum demi kepentingan mereka sendiri mencari jabatan. Karena itu kami akan tetap berupaya mendesakkan Golkar mengajukan capres sendiri sesuai yang telah disampaikan," ujarnya.
Kusraharjo megakui dalam penjaringan capres, DPD Partai Golkar menempatkan Akbar Tandjung pada ranking satu. Namun demikian bukan berarti Golkar Solo akan mendukung Akbar untuk posisi wapres berdampingan dengan SBY. "Kami tetap akan mendesak untuk mengajukan capres sendiri," tegasnya.
(mbr/nrl)










































