"Kok orang ngomong saya tidak dikenal? Saya datang ke perkebunan, saya berdialog dengan mereka, satu kebun 70 orang modalnya nasi bungkus. Kalau nasi bungkus dibilang suap ya bagaimana wong kita di sana makan bersama. Di sana saya bagi-bagi atribut, ada kaos ada gelang karet," tutur Fayakhun saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Selasa (14/4/2009).
Penjelasan Fayakhun untuk mengcounter pernyataan Union Migran (UNIMIG) tentang kecurangan pemilu 2009 yang diselenggarakan di Malaysia. Dalam penghitungan surat suara Undi Pos di Aula KBRI Kuala Lumpur pada hari pertama 10 April 2009, 90 persen surat suara yang masuk melalui pos tercontreng hanya untuk Partai Golkar dengan caleg no 2 atau 5. Kejadian serupa juga terjadi pada hari kedua di mana 90 persen kertas suara tercontreng hanya untuk partai bernomor 23 tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak bagi-bagi uang, selama 8 bulan saya kampanye di Malaysia dan itu saya lakukan secara efektif. Jangan lupa Golkar adalah pemenang pemilu 2004 di Malaysia," tutur pria bergelar insinyur yang sedang mengambil S2 bidang studi politik ini.
Fayakhun kemudian membeberkan kekuatan Golkar di Malaysia yang digunakannya untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.
"Di Malaysia banyak PJTKI dan perkebunan yang jaringan Golkarnya kuat, saya pakai jaringan ini," imbuh Fayakhun.
"Saya sedih sekali kok dibilang begitu, sudah berusaha keras kok dihakimi begitu," pungkasnya.
(van/nrl)











































