Direktur Utama Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, yang sempat
mengunjungi pusat tabulasi pun mengeluhkan pelayanan dan update data yang lamban. Selain itu, Ray menilai, perangkat yang disediakan juga kurang mencukupi.
"Real count KPU itu pemborosan. Dananya yang dikeluarkan terlalu besar tapi
sebenarnya tidak mengena," tutur Ray melalui telepon kepada detikcom, Selasa (14/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
agar proses upload data dihentikan sementara dan baru dilanjutkan setelah jelas bahwa surat suara yang masuk sama dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT).
"Sebaiknya dihentikan dulu sementara, dilakukan perbaikan secara menyeluruh
karena banyak kekacauan," tegasnya.
Ray menambahkan, para caleg yang datang ke real count sebenarnya mereka yang
ingin memastikan kursinya di Senayan. Ray menyayangkan KPU menghamburkan dana untuk real count sedangkan sudah ada quick count yang 'menenangkan' caleg-caleg ini.
"Sebenarnya real count sudah tidak perlu lagi karena hasrat caleg untuk
mengetahui kepastian kursi Senayan sudah terpenuhi melalui quick count yang
digelar lembaga-lembaga survey," imbuh Ray.
"Nggak usah tergesa-gesa. Kalau sudah beres, baru bisa dibuka lagi karena
penghitungan suara pemilu kan penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya bagi caleg," pungkasnya.
(van/lrn)











































