"Ini hasil tabulasi kok mirip dengan quick count. Padahal metode yang digunakan berbeda. Kita bisa mempertanyakan, patut dicurigai," ujar praktisi TI dari ITB Dedy Syafwan kepada detikcom, Minggu (13/4/2009) malam.
Metode yang digunakan quick count adalah dengan mengambil sampling TPS. Rata-rata jumlah sampling adalah 2.000 TPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, jika mau, tidak sulit melakukan manipulasi dalam pemrosesan data yang masuk dari daerah. Sebab data yang ditampilkan di tabulasi KPU tidak real time.
"Data yang masuk tidak langsung tampil di tabulasi, tapi harus ditahan dulu," tutur Dedy.
Karena data ditahan dulu, pada tahap itulah ada peluang terjadinya manipulasi. Sebab pihak yang memproses data bisa memilah dan memilih data mana yang akan ditampilkan terlebih dulu di tabulasi.
"Kenapa nggak real time saja? Data yang masuk sebaiknya langsung ditayangkan, tidak perlu ditahan. Secara teknis hal itu sangat mungkin dilakukan," terang Dedy.
(sho/nrl)










































