"Sesungguhnya Pak JK lebih nyaman kalau di posisi wapres. Apalagi beliau sempat mengatakan, 'saya bukan orang Jawa, jadi sulit untuk jadi presiden'" kata Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip), Yulianto, kepada detikcom, Jumat (10/4/2009).
Yulianto mengatakan, tampilnya JK sebagai capres hanya untuk memenuhi tiga hal. Yakni, menuruti desakan golongan progresif di Golkar, mendongkrak semangat kader di daerah, dan mengapresiasi kehendak DPD-DPD partai berlambang pohon beringin tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingkat elektabilitas JK juga sangat kecil. Di Jawa Tengah saja, tidak lebih dari 4 persen, kalah dengan Sri Sultan HB X dan Prabowo," jelas Yulianto.
Untuk sementara ini, Yulianto belum dapat memperkirakan apakah JK akan mengungkapkan keinginan untuk berpasangan lagi dengan SBY. Namun, dia melihat Golkar akan kembali menduetkan JK dengan SBY, karena hal itu merupakan yang terbaik bagi Golkar saat ini.
"Golkar memiliki mentalitas sebagai penguasa, dan itu sulit dihindari. Golkar adalah partai yang sangat pragmatis," pungkasnya. (irw/irw)











































