"Kekurangan di sana sini selalu ada. Tidak perlu saya angkat ini karena urusan rumah tangga sebenarnya," tutur SBY di kediaman pribadinya, Cikeas, Bogor, Jumat (10/4/2009).
Menurut SBY, pangkal masalah dari itu semua adalah masih minimnya pengalaman dalam membangun koalisi. Akibatnya format koalisi yang dibangun untuk menghadapi Pilpres 2004 tersebut tidak disepakati dengan baik sejak awal oleh seluruh parpol pesertanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus lain yang sempat menjadi kebingungan masyarakat adalah sikap seorang menteri yang berasal dari parpol anggota koalisi yang justru malah dalam beberapa kesempatan mengecam keras kebijakan pemerintah. Padahal yang bersangkutan masih duduk dalam kabinet pemerintahan yang dia kecam.
"Di negara mana pun mestinya he must be out. Dia masih menteri dan presidennya masih saya, kok, malah ke sana ke mari menghantami pemerintah seperti tidak ada beban," sambung SBY.
Berangkat dari pengalaman ini maka koalisi baru akan dibentuk pasca Pemilu 2009 harusnya berdasarkan pada aturan main yang jelas. Bagaimana pola hubungannya antar anggotanya di dalam ekseskutif dan legislative demi terkelolanya penyelenggaraan Negara lebih efisien dan efektif tanpa mengurangi daya kritis.
"Supaya demokrasi kita menjadi demokrasi yang civilized dan demokrasi yang bisa diikuti dengan nalar yang baik pula," tambah SBY.
(lh/irw)











































