Mereka adalah jajaran tim sukses Partai Demokrat (PD) berikut para caleg.
Setengah tahun terakhir merekalah yang berjibaku di lapangan untuk
memenangkan PD dalam Pemilu 2009. Petang itu, Kamis (9/4/2009), seolah kali pertama mereka bisa bernafas lega.
Selepas tanyangan hasil hitung cepat secara konstan menunjukkan perolehan
suara nasional Partai Demokrat stabil di 20 persen pada pukul 20.00 WIB, makin
banyak saja yang berdatangan ke kediaman pribadi Presiden SBY ini. Kali ini
giliran wajah-wajah segar dan berkilau pakaiannya yang berdatangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
eksekutif perusahaan energi multi nasional dan sejumlah purnawirawan militer. Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka saling bertukar cerita bak kawan lama. Mereka datang dengan tujuan sama, yaitu mengucapkan selamat pada SBY atas keunggulan PD meraup suara rakyat.
Keadaan kurang lebih sama berlangsung lima tahun tahun lalu. Pendopo
Cikeas petang hari usai pemungutan suara pemilihan legilatif 2004, suasananya tak ubahnya tempat pesta. Pesta yang digelar justru bukan oleh tuan rumah itu,
semakin meriah saat quick count Pilpres 2004 ditayangkan di televisi.
Seratusan politikus beken, selebritis ternama, pengusaha sukses, pengamat
berbagai bidang, bos-bos media massa seolah menerima undangan buat ikuti
pesta di pendopo Cikeas yang baru. Mereka rela berjam-jam menunggu giliran dapat duduk bersama dan ngobrol sejenak ataukah sekedar menjabat tangan SBY.
Di tahun-tahun pertama SBY menjadi Kepala Negara RI, beberapa dari mereka
ada yang menjadi sekutu. Tapi tidak sedikit politikus dan pengusaha itu di
kemudian hari melepaskan diri dari persekutuan gara-gara apa yang menjadi
kepentingan mereka tidak diakomodasi.
Semalam di pendopo Cikeas tidak ada seratusan politikus beken, selebritis
ternama, pengusaha sukses, pengamat berbagai bidang, bos-bos media massa yang antri minta bertemu SBY. Pihak tuan rumah pun lebih banyak berada di dalam ruang kerjanya dan hanya 30 menit berada di pendopo untuk menyapa tamu-tamu termasuk memberikan keterangan para wartawan.
Meski bukan hasil akhir dan resmi, tapi perolehan suara nasional untuk PD
sebesar 20% bisa jadi semacam pegangan. Tidak ada bedanya dengan gula-gula manis, yang 20% itu sudah menarik semut-semut yang berkepentingan mempertukarkan kepentingannya dengan berbagai kepentingan pihak yang berkepentingan.
(lh/aan)











































