Golkar Harus Evaluasi Capres, Tokoh yang Diajukan Perlu Diganti

Golkar Harus Evaluasi Capres, Tokoh yang Diajukan Perlu Diganti

- detikNews
Jumat, 10 Apr 2009 10:49 WIB
 Golkar Harus Evaluasi Capres, Tokoh yang Diajukan Perlu Diganti
Jakarta - Partai Golkar dan Ketua Umumnya, Jusuf Kalla (JK) sudah banyak beriklan untuk mendongkrak suara Golkar. Namun, peminat parpol ini menurun. Bisa jadi Golkar dan tokoh yang diajukan dan dikampanyekan sebagai capres selama ini kurang menarik. Karena itu, Golkar harus melakukan evaluasi, termasuk mengganti tokoh yang dikampanyekan.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung meminta Golkar mengevaluasi kembali rencana-rencananya menghadapi Pemilihan Presiden (pilpres) 2009. Permintaan Akbar ini terkait turunnya suara Golkar di Pemilu 2009. Hasil quick count dari berbagai lembaga menunjukkan Golkar hanya meraup 14-15% suara, turun 6% dibanding 2004.

"Dengan hasil ini, Golkar perlu mengevaluasi kembali rencana-rencanya termasuk mengajukan capres. Sebab, untuk mengajukan capres, dengan perolehan suara hanya 14-15% suara, maka Golkar harus mengajak parpol-parpol lain untuk berkoalisi," kata Akbar saat berbincang-bincang dengan detikcom, Jumat (10/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, kata Akbar, Golkar menargetkan 25% suara, sehingga bisa mengajukan capres sendiri dalam Pilpres 2009. Namun, kenyataan menunjukkan lain. "Sekarang kalau Gokar mau mengajukan capres, maka harus berkoalisi dengan partai lain. Masalahnya, apakah parpol lain mau mengusung tokoh Golkar sebagai capres," ujar Akbar.

Karena itu, menurut Akbar, Golkar juga harus mengevaluasi apakah tokoh yang diajukan sebagai capres selama ini diminati publik atau tidak. "Jadi Golkar harus melakukan kajian lebih mendalam, termasuk hal itu (tokoh-red), juga perlu dibahas," ungkap dia.

Saat ini, imbuh Akbar, Golkar masih memiliki waktu yang cukup untuk melakukan reposisi dalam Pilpres 2009 nanti. "Pandangan saya, agak berat seandainya Golkar memaksakan capres dengan kondisi sekarang," jelas Akbar.

Pada awalnya, menurut Akbar, Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004 sangat yakin akan bisa meraup suara besar dalam Pemilu 2009. Keyakinan ini wajar, karena Golkar memang memiliki pengalaman-pengalaman di politik, pemerintahan, dan infrastruktur, sehingga menjangkau basis-basis masyarakat. Dengan aset signifikan ini, Golkar pun melakukan penjaringan capres.

"Meski belum diputuskan siapa tokoh yang paling diminati dalam penjaringan capres itu, Pak JK sudah menyatakan siap menjadi capres. Bahkan PaK JK juga sering mengatakan bila menjadi presiden, akan bisa lebih baik dan lebih cepat. Bahkan di iklan, Pak JK juga sudah menyingsingkan lengan baju segala," kata dia.

Namun, dengan perolehan suara yang jauh dari 25%, Golkar mau tidak mau harus berkoalisi dengan parpol lain. "Tapi, itu tidak mudah mengajak parpol-parpol lain berkoalisi. Mereka akan bertanya siapa tokohnya. Kalau tokohnya favourable, ya mereka akan tertarik koalisi. Jadi, siapa tokoh yang diajukan ini sangat penting," jelas doktor ilmu politik UGM ini.

Sejauh ini, selain JK, sejumlah tokoh Golkar juga pernah diwacanakan sebagai capres atau cawapres. Antara lain Agung Laksono, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Sri Sultan HB X, dan Akbar Tandjung. (asy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads