Suparmi, seorang warga Tawangmangu, sejak Kamis pagi buta sudah tiba di rumah orangtuanya di pinggiran Kota Solo. Dia mengaku tidak menggunakan hak pilihnya. Dia lebih memilih mengunjungi ibunya yang tinggal bersama kakaknya di Solo.
"Tidak ada yang kenal dengan calegnya. Lebih baik tidak milih saja daripada salah pilih. Nanti saja kalau pemilihan Presiden, saya baru akan memilih," ujarnya sembali menambahkan bahwa figur presiden jauh lebih berpengaruh bagi kehidupan rakyat dibanding anggota DPR RI dan DPRD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal berbeda justru dialami oleh Sugeng, warga Kelurahan Kratonan, Solo. Dia berharap betul untuk bisa memberikan hak pilihnya dalam Pemilu tahun ini, namun apa daya namanya tidak masuk dalam DPT.
"Saya sudah bertanya kesana-kemari, tapi tetap saja nama saya tidak bisa masuk dalam DPT. Ya sudah, saya istirahat saja di rumah, sambil menikmati liburan," papar Sugeng.
Sugeng tidak sendirian. Di Solo setidaknya terdapat 295 orang yang bernasib sepertinya. KPU Kota Surakarta mengaku tidak lagi bisa memasukkan nama mereka dalam DPT karena kerterbatasan waktu, namun KPU setempat menjamin mereka masuk sebagai pemilih pada Pilpres.
Solo termasuk pada Dapil V Jateng yang mencakup Solo, Sukoharjo, Klaten, Boyolali. Banyak pihak menilai Dapil V adalah daerah 'paling panas' di Jateng. Di dapil ini sejumlah tokoh beradu pengaruh untuk memperebutkan delapan jatah kursi dari daerah tersebut.
Di antara para caleg berpengaruh adalah Ketua Umum MPR Hidayat Nurwahid (PKS), 'putri mahkota PDIP' Puan Maharani (PDIP), Ketua Umum Gerindra Suhardi (Gerindra), mantan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif (Partai Demokrat), mantan juara dunia bulutangkis Icuk Sugiarto (PPP), artis Tamara Geraldine (PDS).
Selain itu masih tampil juga aktivis buruh Dita Indah Sari (PBR), anak kandung DN Aidit Ilhan Aiidit (Partai Buruh), wakil bupati Sukoharjo M Toha (PKB) dan manajer MURI Paalus Pangka (PKDI).
(mbr/djo)











































