"Kondisi sekarang keadaannya sama seperti zaman Soeharto bahkan lebih buruk, terutama bidang ekonomi dan pertahanan negara. Di bidang pertahanan negara, Indonesia dianggap nothing oleh negara-negara tetangga kita," kata Sri Bintang.
Hal itu disampaikan dia saat peluncuran bukunya berjudul "Menantang Seorang Diktator, Perjalanan di Jerman" di Toko Buku Leksika, Jl Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sri Bintang, dijatuhkannya Presiden Soeharto pada Mei 1998 merupakan keniscayaan sejarah. Salahnya, tidak semua pejabat yang bermental Orde Baru waktu itu juga dipaksa mundur.
"Jadi kita enggak tuntas," jelas mantan politisi PPP itu.
Karenanya, jika ingin Indonesia bangkit, Sri Bintang mengimbau masyarakat untuk berbuat sesuatu sambil menunggu proses pemilihan presiden berlangsung. Dan itu, lanjutnya, tak terlalu sulit dilakukan.
"Kalau golput menang 40-60 persen, kita duduki MPR, kita ganti mereka," kata dia disambut tepuk tangan hadirin.
"Dugaan saya, waktu itu hanya 25 ribu (massa) masuk ke MPR. Kalau sekarang kita bawa 50 - 100 ribu itu militer-militer yang kalah perang enggak akan berani menembak kita," pungkasnya. (irw/nrl)











































