Masa Tenang Pemilu Tidak Logis

Masa Tenang Pemilu Tidak Logis

- detikNews
Selasa, 07 Apr 2009 15:30 WIB
Masa Tenang Pemilu Tidak Logis
Jakarta - Pengamat politik Effendi Ghazali menyebut masa tenang sebagai masa yang tidak logis. Ibaratnya seorang yang berlari kencang tiba-tiba dihentikan diminta istirahat untuk 3 hari. Lalu, setelah berhenti 3 hari kemudian berlari lagi ke finish.

"Masa tenang itu sebenarnya tidak logis, ibarat orang berlari kencang tiba-tiba harus berhenti. Setelah berhenti baru disuruh ke finish," kata Effendi saat ditemui wartawan sebelum diskusi peluncuran buku "Politik Komunikasi Partai Golkar di Tiga Era" yang ditulis oleh Rully Chairul Azwar.

Hal ini disampaikan dia di Hotel Intercontinental, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Effendi, kampanye seharusnya tidak perlu mengenal masa tenang karena di negara mana pun masa tenang itu tidak dikenal.

"Di negara lain sampai pemilu pun kampanye itu dibolehkan. Asal jaraknya 200 meter dari TPS," ujarnya.

Effendi juga mengatakan bahwa di Indonesia masa tenang sebenarnya menjadi masa yang paling heboh. Saat itu, partai-partai tetap bekerja secara diam-diam.

"Bahkan di masa tenang, ada serangan fajar," kata dia.

Lebih lanjut, Effendi mengatakan hasil survei dan peluncuran buku terkait dengan partai tertentu di masa tenang tidaklah tergolong kampanye.

"Ini hanya sebuah persaingan wacana. Terserah media memuat atau tidak," kata dia.

Peluncuran buku Rully akan dihadiri Wapres Jusuf Kalla, mantan Menteri Penerangan Harmoko dan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
(aan/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads