"Masa tenang itu sebenarnya tidak logis, ibarat orang berlari kencang tiba-tiba harus berhenti. Setelah berhenti baru disuruh ke finish," kata Effendi saat ditemui wartawan sebelum diskusi peluncuran buku "Politik Komunikasi Partai Golkar di Tiga Era" yang ditulis oleh Rully Chairul Azwar.
Hal ini disampaikan dia di Hotel Intercontinental, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di negara lain sampai pemilu pun kampanye itu dibolehkan. Asal jaraknya 200 meter dari TPS," ujarnya.
Effendi juga mengatakan bahwa di Indonesia masa tenang sebenarnya menjadi masa yang paling heboh. Saat itu, partai-partai tetap bekerja secara diam-diam.
"Bahkan di masa tenang, ada serangan fajar," kata dia.
Lebih lanjut, Effendi mengatakan hasil survei dan peluncuran buku terkait dengan partai tertentu di masa tenang tidaklah tergolong kampanye.
"Ini hanya sebuah persaingan wacana. Terserah media memuat atau tidak," kata dia.
Peluncuran buku Rully akan dihadiri Wapres Jusuf Kalla, mantan Menteri Penerangan Harmoko dan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
(aan/nrl)











































