Selain menyisakan sampah-sampah kotor di setiap lokasi kampanye dan atribut yang masih banyak belum dibersihkan, janji-janji mereka tentunya yang tersisa, dan akan selalu diingat oleh masyarakat.
"Kita tunggu saja jika benar mereka terpilih apakah masih ingat akan janjinya," kata Darmi, salah seorang penjual warteg di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan kepada detikcom, Minggu 5 April kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para petinggi negeri ini selama musim kampanye terbuka juga memanfaatkan momen ini dengan terus 'menjual diri' dan partainya. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini selalu menyempatkan diri pada akhir pekan untuk kampanye, tentunya ditambah dengan cuti dari jabatannya sebagai presiden pada hari Jumat.
Dalam kampanyenya, SBY selalu memamerkan berbagai keberhasilan pemerintah, terutama dalam sektor ekonomi. SBY mengklaim telah membebaskan Indonesia dari belenggu IMF, menyejahterakan rakyat kecil dengan program BLT, dan tentunya menyindir rival politiknya, Megawati Soekarnoputri yang dia anggap plin plan menyikapi BLT. Janji-janji manis ala kampanye juga tak luput diucapkan SBY.
Tak mau kalah dengan SBY, Ketua Umum Partai Golkar yang juga menjabat sebagai wakil presiden, Jusuf Kalla (JK) juga sibuk kampanye keliling nusantara. Setelah menyatakan diri secara vulgar pisah kongsi dengan SBY, JK memang tampak rajin berkampanye. Meski cara ini tetap saja membuat pria asal Makassar ini tetap tidak terlalu populer sebagai capres.
Beda dengan SBY yang terkesan monoton dalam berorasi, JK tampak lebih segar. Sering dalam kampanye JK melakukan hal-hal yang spontan misalnya mengajak dialog langsung dengan peserta kampanye. Suasana pun menjadi lebih cair dan jenaka.
Tapi ada cerita lucu saat JK wawancara dengan salah seorang peserta kampanye beberapa waktu lalu. Pria yang dipilih untuk diwawancarai JK ternyata seorang pengangguran. Padahal sebelumnya, JK berapi-api mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Golkar, pemerintah telah berhasil menyejahterakan rakyat. Sebuah tamparan kecil bagi pemerintah dan Golkar.
Capres lain, Megawati Soekarnoputri juga tak ketinggalan. Dengan partai oposisi yang dia pimpin, PDIP, Mega seakan ingin menunjukkan, bahwa banteng moncong putih masih punya taji. Kampanye terakhir di Stadion GBK pada Sabtu 4 Maret lalu, partai yang identik dengan warna merah ini berhasil mengumpulkan ratusan ribu massa. Mega pun lantang menyuarakan keberpihakannya terhadap wong cilik
saat berorasi.
Berbeda dengan SBY dan JK yang selalu memamerkan keberhasilan pemerintah, sebagai pemimpin partai oposisi, Mega berkampanye dengan tema sebaliknya: mengkritik pemerintah.
Saat kampanye di Jember, Jawa Timur, Mega dengan lantang dan berapi-api mengkritik kebijakan BLT yang dianggapnya sebagai kebijakan yang melatih bangsa Indonesia menjadi pengemis. Dengan mata berkaca-kaca dan sesekali telapak tangannya dia pukulkan keras-keras ke podium, Mega menolak dengan tegas kebijakan BLT.
Tapi belakangan kondisi berbalik. PDIP malah gencar membikin iklan yang seakan-akan mendukung kebijakan BLT dengan melakukan pengawasan terhadap distribusi BLT.
"Alhamdulillah BLT telah kami terima. PDIP memang partainya wong cilik, terimakasih PDIP," demikian ucap seorang warga miskin setelah menerima BLT di akhir iklan tersebut.
Iklan dan sikap Mega yang berbalik inilah justru yang menjadi amunisi SBY untuk menyerang Mega dalam setiap kampanyenya.
Lantas apakah keuntungan rakyat dari perang iklan, perang kampanye dan perang mengumpulkan massa di musim kampanye terbuka ini? Beruntung jika janji-janji yang mereka lontarkan ditepati. Artinya, masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat.
Tapi kalau tidak, kampanye cuma jadi agenda 'jualan kecap' lima tahunan yang hanya manis di panggung sandiwara saja, tapi pahit di dunia nyata.
"Kalau mereka tak menepati janji, mending nggak usah milih saja," ucap Darmi datar sambil melayani pelanggan.
(anw/lrn)











































