Kesimpulan tersebut diperoleh pada simulasi pencontrengan yang diadakan di masyarakat pinggir rel, RW 8 Menteng Jaya, Jakarta Pusat, Minggu (5/4/2009).
Pada simulasi tersebut, berkumpul sekitar 50 warga RW 8. Satu persatu, warga melakukan pencontrengan. Dari penghitungan KPU dan Panwaslu yang turut hadir, rata-rata pemilih membutuhkan waktu 3-4 menit perkepala di bilik suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari para pemilih, kesulitan utama dialami pemilih cacat. Seperti Turniah (35) yang tuna daksa, tidak mempunyai tangan kanan hingga ke pangkal.
Turniah terpaksa dibantu petugas TPS untuk membuka kertas suara. Tetapi saat melipat usai mencontreng, dapat melakukan sendiri.
"Ya memang begini. Saya sendiri tidak menginginkannya," kata Turniah yang kehilangan tangan kanan gara-gara keserempet kereta api.
Pun demikian, sejumlah pemilih menyatakan sudah mengetahui teknis pencontrengan. Hanya saja, untuk menentukan pilihan, masih banyak yang belum memastikan.
"Partainya banyak, iklannya dimana-mana, bingung," ucap Sunarsih (29).
(Ari/yid)











































