Hal itu terungkap, dari surat undangan yang diedarkan kepada wartawan di Pekanbaru, Jumat (3/04/2009).
Dalam undangan selembar itu, pihak KPUD Pekanbaru, pada Sabtu (4/04/2009) akan menggelar sosialisasi pemilu. Lantas KPU meminta sejumlah media lokal dan nasional mengirimkan satu orang wartawannya untuk dapat hadir diacara itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas surat undangan dengan iming-iming duit itu, Menurut Ketua PWI Reformasi Riau, Jupernalis Samosir menyebut, bahwa KPUD Pekanbaru tidak mengerti tugas-tugas jurnalistik.
Disamping itu, wartawan Tempo itu menyebut, mungkin sudah terbiasa KPUD kalau mengundang wartawan memberikan uang. Itu artinya, mungkin juga KPUD terbiasa menerima uang.
"Atau mungkin juga wartawan selama ini kalau diundang tanpa uang tidak mau datang. Dan juga KPUD menunjukan belangnya yang suka bagi-bagi uang," kata Jupernalis.
Mestinya, kasus KPUD bagi-bagi uang ke wartawan ini, diusut oleh Badan Pengawas Pemilu. Atau Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus mengaudit anggaran yang ada di KPUD Pekanbaru.
"Kalau memang mau bagi-bagi uang dalam sosialisasi pemilu, mestinya masyarakat umum yang belum paham soal pemiluΒ harus dapat uang juga. Tapi inikan aneh, uang yang notabenenya milik rakyat hanya diberikan kepada wartawan," tandas Jupernalis.
(cha/rdf)











































