"Publik lebih cerdas dari yang kita duga. Kekhawatiran bahwa hasil survei akan menggiring opini dan mempengaruhi opini untuk mendukung yang menang tidak benar," ujar Ketua Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) Denny JA.
Denny menyampaikan hal itu dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2009).
Menurut Denny, pengumuman hasil survei pada masa tenang lazim dilakukan di negara-negara demokrasi. Contohnya di Amerika Serikat, CNN dan NBC masih menyiarkan hasil survei termutakhir bahkan pada detik-detik terakhir pemungutan suara.
Demikian juga untuk quick count. 2 Jam setelah TPS ditutup, ABC dan CNN sudah mengumumkan proyeksi bahwa Obama akan terpilih sebagai presiden.
Denny menerangkan, lembaga survei merupakan bagian dari tradisi kebebasan akademis yang memiliki ciri mengoreksi dirinya sendiri (self-correcting). Lembaga survei yang satu akan dikoreksi dan dikontrol oleh lembaga survei yang lain.
"Publik justru akan diuntungkan mendapatkan informasi yang beragam,"
katanya.
Lembaga survei yang ingin bertahan hidup pasti harus ekstrahati-hati. Mereka tidak boleh ceroboh atau memainkan data demi kepentingan pihak tertentu karena validitasnya akan segera diuji oleh hasil pemilu yang resmi.
Di sinilah reputasi lembaga survei akan diuji. "Kalau memainkan data maka segera ia akan menggali kuburannya sendiri," tukas Denny.
Untuk itu Denny meminta para parpol kecil tak khawatir terhadap publikasi hasil survei dan hitung cepat ini.
"Kami ingin mengklarifikasi terkait kekhawatiran partai-partai kecil bahwa publikasi hasil survei dan quick count akan menguntungkan partai besar. Kita tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," tegas dia.
(sho/nwk)











































