2009 tinggal satu pekan lagi. Dari hasil sebuah lembaga survei diperkirakan
potensi golongan putih (Golput) alias tidak ikut memilih berkisar sekitar 35-40 persen.
"Golput ini disebabkan masalah administrasi, seperti mereka yang tidak
terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan golput politis seperti pemilih yang bingung akibat banyaknya parpol atau apatis," kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan dan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid dalam jumpa pers di Hotel Sahid Sudirman, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2009).
Menurut Husin, dalam hasil penelitian terhadap 1.250 orang responden di 33
Provinsi pada tanggal 16-23 Maret 2009 lalu, diketahui 93,50 persen menyatakan telah mengetahui pemilu akan dilakukan pada tanggal 9 April mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengukur tingkat pengetahuan responden terhadap cara memilih seperti mencontreng, Husin menyatakan, hasilnya 78,5 persen mengaku tahu cara mencontreng, 6 persen mengaku belum tahu dan 15,50 persen mengaku masih bingung.
Dalam survei kali ini, Puskaptis juga menemukan sejumlah responden telah
menentukan parpol yang akan menjadi pilihannya. Namun, sekitar 22,50 persen
responden masih merahasikan parpol yang akan dipilihnya.
Disebutkan juga, sekitar 19,60 persen responden akan memilih PDIP, 19,18
persen responden memilih PD dan 18,26 persen responden akan memilih Partai Golkar. Partai-partai politiknya, seperti PKS dipilih sekitar 8,78 persen
responden, PPP dipilih 3,50 persen responden dan 2,46 persen memilih Gerindra, PAN dipilih 2,16 persen responden, PKB dipilih 1,67 persen, Hanura dipilih 1,35 persen, PBB dipilih 0,35 persen.
"Persaingan ketat terjadi di tiga partai politik besar, yaitu PDIP, Demokrat dan Golkar. Persaingan ini masih dalam batas atas maupun bawah dengan margin error sebesar 3 persen. Artinya, bisa saja di antara ketiga parpol besar bisa lebih unggul atau menang," pungkasnya.
(zal/mad)











































