Ini tercermin dalam iklan kampanye terbaru mereka untuk Pemilu 2009. Pesan tersirat iklan tersebut adalah pernyataan bahwa PDIP sebenarnya punya andil besar dalam penyaluran dana BLT ke masyarakat miskin.
Ada dua versi iklan PDIP edisi BLT yang mulai muncul di sejumlah televisi swasta pada sepanjang hari ini. Salah satunya 'dibintangi' sepasang suami istri yang digambarkan sebagai rakyat miskin menjadi endorser iklan yang didominasi warna merah khas PDIP itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah BLT sudah kami terima. PDIP memang partainya wong cilik," ujar keduanya serempak. Kibaran umbul-umbul warna merah bergambar logo PDIP berkibar di belakang mereka.
Materi iklan ini seolah menegaskan reposisi PDIP terhadap program BLT. Setidaknya sampai akhir pekan kemarin Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri dalam orasi kampanye di berbagai daerah masih menyatakan tidak setuju atas program BLT dan menudingnya sebagai penghinaan pamerintahan SBY-JK terhadap rakyat miskin.
Sejak sepekan menjelang kampanye terbuka Pemilu 2009, beberapa caleg dan elit PDIP sengit menuding penyaluran BLT sebagai kampanye terselubung Partai Demokrat (PD). Sebelum itu Fraksi PDIP di DPR-RI dalam rapat penyusunan UU APBN 2009 juga hanya meloloskan penyaluran dana BLT untuk 2 bulan dari 12 bulan yang diusulkan pemerintah.
Sebenarnya reposisi PDIP terhadap program BLT sudah dimulai awal pekan ini. Megawati dalam keterangan pers yang digelar khusus menyatakan PDIP akan ikut mengawasi penyaluran dana BLT pada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab PDIP karena ikut menyetujui penyaluran BLT untuk tahun anggaran 2009.
Demi menegaskan komitmen tersebut, Mega menitahkan putri sulungnya untuk terjun langsung mengawasi penyaluran BLT di beberapa titik di Jakarta. Maka pada sepanjang Rabu (25/3) pagi Puan Maharani melaksanakan tugas tersebut.
Ini reposisi habis-habisan PDIP ataukah Megawati menjilat ludah sendiri?
(lh/rdf)











































