Pengungsi itu menghuni tiga bekas gudang cengkeh milik PT. Vita Samudera di Desa Passo, kecamatan Teluk Baguala, Ambon. Mereka berasal dari Maluku Tenggara, Buru, Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah.
"Saya menemukan 62 KK hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa sanitasi yang memadai," kata Salamun Yunus Yusran, kepada detikcom di pelataran Masjid al-Fatah, Ambon, Rabu (25/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah sampai di tempat itu, saya kaget sekali, mengapa masih ada pengungsi yang tinggal di camp-camp pengungsi sampai hari ini. Tempatnya kumuh, pengap, dan kalau mau jujur sebenarnya tidak layak ditempati oleh manusia, karena sangat jauh dari standar kesehatan. Namanya saja gudang," papar Yusran.
Β
Yusran menambahkan fasilitas MCK juga terkesan seadanya di luar gudang. Selain itu, kata dia, tangisan balita saling bersahutan. Demikian pula dengan lansia yang terbaring lemah di petak-petak tripleks dalam gudang, menambah piluΒ siapa saja yang melihat pemandangan itu.
"Mana perhatian pemerintah daerah, kenapa mereka masih bertahan di tempat seperti itu. Ini tidak adil menurut saya. Sementara banyak pejabat hidup dalam kecukupan, padahal masih ada masyarakat mengalami hal sebaliknya, merana di camp-camp pengungsian," cetusnya.
Bukan hanya tempatnya yang kumuh, puluhan anak usia sekolah di camp pengungsi ini tidak mendapatkan pendidikan.
"Pokoknya sangat memprihatinkan kehidupan 62 KK tersebut. Saya minta perhatian Pemerintah pusat dan daerah. Ini pelanggaran hak asasi manusia,β tegasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Gubernur Maluku, Said Assagaf, kepada detikcom di ruang kerjanya mengatakan, akan meninjau langsung lokasi tersebut.
"Jujur, kami tidak mengetahuinya sama sekali. Kami segera akan menindaklanjuti hal ini," kata Said.
(han/aan)











































