"Rapat umum banyak nyanyi-nyanyinya dan semua capres pasti akan belajar nyanyi untuk rapat umum ini. Rapat umum lebih ke monolog bukan dialog. Kalau debat ada dialog dan tanggung jawab capres-cawapres," ujar Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampouw ketika dihubungi detikcom, Rabu (25/3/2009).
Selain ajang belajar nyanyi, rapat umum bertujuan membentuk citra partai. Hal ini lebih menguntungkan capres-cawapres karena membentuk citra sebagai orang atau parpol yang banyak pendukungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kampanye rapat umum, imbuhnya, visi dan misi kandidat serta parpol hampir tidak diperhatikan masyarakat. Karena, kampanye rapat umum itu lebih banyak senang-senangnya.
"Kampanye dalam bentuk rapat umum bagi masyarakat sisi edukatifnya agak lemah. Kampanye rapat umum pengaruhnya bagi masyarakat hanya hura-hura, rekreasi, senang-senang bertemu capres langsung, mendapat hiburan gratis," ujar dia.
Jeirry pun menilai debat lebih efektif menyampaikan visi dan misinya. Disamping debat publik yang sudah ditentukan dalam UU Pilpres, capres-cawapres nantinya diharapkan bersedia menghadiri undangan masyarakat untuk debat.
"Itu momentum capres bertemu dengan masyarakat, ada dialog," kata dia.
Kendati ada debat capres-cawapres, Jeirry tak setuju jika kampanye rapat umum dihilangkan.
Sebelumnya, I Gusti Putu Artha mengatakan semua anggota KPU setuju setuju kalau tidak akan ada kampanye rapat terbuka untuk Pilpres Juli nanti.
Putusan ini diambil karena selain tidak mendidik masyarakat, secara politis kampanye rapat terbuka juga memakan banyak biaya. Sebagai gantinya, KPU akan mempersiapkan debat capres-cawapres yang akan disiarkan di stasiun TV maupun radio dan media online.
(nwk/iy)











































