"Perkiraan saya, debat akan lebih efektif sejauh itu disiarkan secara luas, dibuat dalam format debat, yang bukan sekadar menyampaikan misi dan visi program. Pesertanya di-battling (ditarung), antarpeserta bisa bertanya" ujar Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform (Cetro) Hadar Navis Gumay ketika dihubungi detikcom Selasa (24/3/2009).
Agar dapat disiarkan secara luas, imbuhny, KPU hendaknya bekerja sama dengan semua stasiun TV ataupun jaringan radio di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau debat bebas belum bisa diterima. Ada yang takut berdebat soalnya," imbuh dia.
Cara ini, menurutnya jauh lebih efektif daripada kampanye rapat umum yang mengumpulkan massa. Apalagi, kampanye model itu belum tentu berhasil menyampaikan visi dan misi kandidat.
"Kampanye seperti itu lebih karena dimobilisasi, ada hiburannya siapa, disediakan mobil, dan makanan," imbuhnya.
Sebelumnya, I Gusti Putu Artha mengatakan bahwa semua anggota KPU setuju setuju kalau tidak akan ada kampanye rapat terbuka untuk Pilpres Juli nanti.
Putusan ini diambil karena selain tidak mendidik masyarakat, secara politis kampanye rapat terbuka juga memakan banyak biaya. Sebagai gantinya, KPU akan mempersiapkan debat capres-cawapres yang akan disiarkan di stasiun TV maupun radio dan media online.
(nwk/anw)











































