Kritikan ini datang dari Panda Nababan, anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan. Menurut dia, banyak hal yang semestinya dilakukan anggota dewan untuk membuat rakyat sejahtera, namun karena kinerja yang tidak maksimal, maka masalah-masalah rakyat itu tidak teratasi.
Panda yang saat ini menjabat sebagai ketua PDI Perjuangan Sumatera Utara (Sumut) memberi contoh tentang aktivitasnya beberapa hari lalu. Dia datang ke sebuah pasar di Medan, dan melihat kondisi tempat tersebut yang sangat miris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya meminta waktu agar para pedagang bisa berbicara dengan beliau, dan diterima. Hal-hal sepertilah yang seharusnya dilakukan wakil rakyat, di DPRD Kota atau Provinsi. Menyampaikan persoalan yang dialami rakyat, tetapi hal itu jarang dilakukan," ujar Panda Nababan saat peluncuran bukunya Jurnalisme Investigatif Panda Nababan, Menembus Fakta di Griya Dome, Jl. Amir Hamzah, Medan, Senin (16/3/2009).
Dengan kondisi ini, lanjut Panda, ke depan kinerja tersebut harus dimaksimalkan. Tidak terkecuali termasuk dirinya sendiri. Apalagi di PDI Perjuangan, kata dia, sudah ada komitmen dengan partai.
Komitmen yang dimaksud Panda adalah kontrak politik untuk perubahan, yakni jika target perubahan gagal dicapai, anggota PDI Perjuangan yang terpilih sebagai anggota DPR 2009-2014 dilarang mencalonkan diri kembali di 2014 mendatang.
Acara peluncuran buku ini sendiri dihadiri tak kurang dari 700 undangan. Termasuk di antaranya sastrawan WS Rendra serta Gubernur Sumut Syamsul Arifin.
Setiap undangan mendapat sebuah buku, beserta brosur diri dan kartu nama yang menjelaskan status Panda Nababan sebagai calon anggota DPR RI nomor urut satu dari PDI Perjuangan untuk Daerah Pemilihan Sumut I, meliputi wilayah Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi. (rul/mok)











































