"Omzet sih sama-sama saja, nggak ada peningkatan biar kata mau pemilu. Kalau toh ada, ya paling dikit," ujar Anton (31), pemilik toko alat-alat sablon, di Jl Otista, Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang ditemui detikcom, Jumat (14/3/2009).
Anton mengaku, sejak Pemilu 2004 lalu omzet penjualan alat-alat sablon sudah tidak seramai pemilu sebelumnya. Kini, orang lebih suka menggunakan digital printing atau pun pres sablon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, lanjut Anton, usaha penjualan alat-alat sablon dan bahan kimia untuk sablon masih terus dipertahankan. Meski rata-rata pembelinya adalah pengusaha kecil yang tetap menjalankan bisnis percetakan dengan metode manual atau sablon.
Hal tersebut dibenarkan oleh Masri, salah satu langganan tetap Anton yang kebetulan sedang membeli kain dan tinta sablon.
"Sekarang sablon sudah jarang, di Senen (Pasar Senen) saja hampir semuanya sudah pakai pres, karena lebih cepet. Tinggal teken sebentar jadi," kata Masri yang masih meneruskan usaha sablon di rumahnya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.
Pengakuan Anton maupun Masri, harga sablon tradisional lebih murah dibanding dengan pres sablon. Untuk sablon tradisional, harga permeternya hanya sekitar Rp 7-10 ribu. Sedangkan untuk pres sablon mencapai Rp 20 ribu.
"Ya kita mah begini-gini saja. Biar kata mau pemilu juga sama saja," ujar Anton sambil diamini oleh 3 pekerjanya.
(her/nik)











































