"Saya nggak perlu popularitas, karena saya sudah lebih populer dari menteri-menteri yang ada. Bahkan saya bisa jadi bapaknya presiden. Saya bikin film tentang presiden, saya jadi bapaknya, terus saya elus-elus kepalanya," ujar Deddy.
Hal itu disampaikannya di sela-sela acara Rakyat Ngomel Nagabonar Nguping di Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sutradara sekaligus bintang film kawakan ini, menjadi presiden bukanlah tujuan, melainkan risiko. Komitmen untuk mensejahterakan rakyat berimplikasi pada kesiapan untuk menjadi presiden. Dan komitmen itulah yang dimiliki 'Jenderal Nagabonar' ini.
"Menjadi presiden bukanlah untuk mencari kenikmatan, tapi merupakan risiko dari tujuan untuk mensejahterakan rakyat. Seorang presiden harus siap mengorbankan kenikmatan-kenikmatan yang dimilikinya," ucapnya.
Meski sadar tentang pentingnya dukungan dari parpol untuk menjadi capres, namun Deddy tidak merisaukannya. Menurut Deddy, pendeklarasian kesiapan dirinya nyapres justru menjadi bagian dari kritik dia terhadap sistem politik yang ada, khususnya syarat dukungan 25 persen suara untuk capres.
"Saya sedih. Aturan yang dibuat oleh anggota dewan kita tidak memungkinkan munculnya calon kecuali itu-itu saja. Dengan syarat dukungan itu kan artinya jutaan rakyat yang punya hak dipilih kehilangan haknya," ungkap Deddy.
Acara ini diramaikan oleh penampilan kelompok musik Nada Sumbang Terpadu. Tampak hadir di antaranya cawapres Deddy Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi dan budayawan-politisi Ridwan Saidi.
(sho/gus)











































