Getar Hati PB HMI untuk JK jika Menang Capres

Getar Hati PB HMI untuk JK jika Menang Capres

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 19:17 WIB
Getar Hati PB HMI untuk JK jika Menang Capres
Jakarta - Siapa tak bangga jika menjadi organisasi yang menelurkan banyak kader berkualitas yahud di segala bidang. Tidak terkecuali Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi ini, tak cuma bangga jika alumninya Wapres Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres, namun juga bergetar hatinya jika JK menang.

"Dari HMI kami sampaikan pada prinsipnya kami bangga beliau telah menjadi wapres. Tentu akan lebih bangga bila beliau jadi presiden. Kader HMI se-Indonesia akan bergetar hatinya jika beliau menang pada Pemilu 2009," ujar Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI Arif Mustopa usai bertemu JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2009).

Arif menambahkan, JK bisa menang menjadi capres jika Partai Golongan Karya (Golkar) menang pada Pemilihan Legislatif April 2009. JK pun, menurutnya sempat termenung ketika ditanya kemungkinan bila Golkar tidak menang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beliau sedikit termenung, namun beliau optimis Golkar bisa menang," ujar dia.

Menurutnya karakter JK yang ceplas-ceplos tak akan menjadi hambatan untuk maju capres. Indonesia, menurut Arief, terkadang membutuhkan sosok yang terus terang dan tidak terlalu protokoler seperti JK.

Dalam kesempatan itu pula, PB HMI juga menyampaikan penghargaan 'HMI Award' pada JK kategori politikus negarawan. "Ini merupakan penilaian subyektif HMI terhadap alumninya, itu kader terbaik kita yang mengabdi kepada negara, tidak ada cacat hukum, berpandangan maju dan demokratis," imbuh Arif.

Apakah bila ada kader HMI lain yang maju capres seperti Akbar Tandjung akan didukung juga?

"Ya tentu kita juga sama bangga, tapi kan tak perlu audiensi seperti ini karena beliau bukan pejabat negara," jawab Arif.

Kendati beberapa kader alumni HMI menjadi capres, namun HMI menegaskan tak akan menjadi motor politik salah satu alumninya.

"Tidak boleh (menjadi motor). Organisasi kita independen. Mungkin kedekatan emosional dan historis bisa mempengaruhi pilihan politik kader secara individu, tapi tidak secara organisasi," paparnya (nwk/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads