Hal itu diungkapkan pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito dalam acara diskusi publik di gedung PWI Yogyakarta, Jl Gambiran 45, Selasa (3/3/09).
"Faktor yang cukup berperan menurunkan kualitas pemilu tahun ini adalah keputusan MK. Dan parpol tidak bisa mengontrol dan menindak calegnya bila melakukan money politic," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Toleransi seperti ini akan memerosotkan kualitas demokrasi," katanya.
Arie menambahkan, politik uang juga tidak diimbangi dengan perlawanan dari masyarakat. Padahal jika masyarakat terdidik dan terorganisir untuk melawannya, kualitas demokrasi pasti meningkat.
"Tapi kenyataannya sebagian besar tidak bisa melakukan itu. Saya sedih sekali, pemilu 2009 ini diprediksikan kualitasnya akan merosot," ungkapnya.
Arie juga mengatakan, keputusan MK mengenai suara terbanyak itu juga akan menyebabkan peran parpol terhadap caleg semakin berkurang. Caleg akan sibuk mengurusi dirinya sendiri dan visi misi partai pun terpinggirkan.
"Besok para caleg yang jadi legislatif tidak merasa berhutang budi pada partai, karena sekarang yang dibangun bukan partai, tetapi membangun suara terbanyak berbasis individu," papar Arie.
Dia memprediksi, lima tahun kedepan orang pasti tidak tertarik menjadi pengurus partai. Partai hanya akan dipakai sebagai kendaraan saja pada pemilu.
(djo/djo)











































