Pernyataan kesiapan maju sebagai kandidat capres sudah dinyatakan terbuka oleh Deddy. Begitu genderang ditabuh, Deddy dan pasukannyaΒ kini berancang-ancang membuka markas baru di tengah kota.
"Kita akan buka front office di Jakarta Pusat. Supaya memudahkan mobilisasi dan menerima dukungan dari sejumlah kalangan," jelas Direktur Campaign 'Deddy for President' Uncu Natsir saat berbincang-bincang dengan detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk saat ini tim sukses Deddy masih menggunakan markas yang ada di Jakarta Timur sebagai back office. Di kantor inilah Deddy dan pasukannya menggagas rencana pencapresan sejak setahun lalu.
Setelah melakukan pergulatan panjang selama setahun, Deddy akhirnya secara terbuka mau maju di pilpres bersama sohibnya, Mayjen (Purn) Saurip Kadi.
Taman Ismail Marzuki dijadikan jenderal fiktif ini untuk menyampaikan orasi politik perdananya. Acara yang digelar Jumat, pekan lalu, bertema "Refleksi Politik Jenderal Nagabonar".
Ratusan simpatisan dan pendukung Deddy hadir. Mereka umumnya dari kalangan artis dan seniman. Di hadapan mereka, Deddy menegaskan kalau dirinya siap mengambalikan kedaulatan ke tangan rakyat."Saya Jenderal Nagabonar siap untuk mewujudkan negeri yang mengutamakan rakyat. Hidup rakyat!" seru Deddy Mizwar kala itu.
Namun kesiapan Deddy untuk nyapres dianggap sejumlah kalangan hanya dagelan belaka. Sebab Deddy dianggap tidak punya modal cukup untuk bertarung di pilpres yang mengerahkan segenap energi. "Kalau cuma modal popularitas saja mana cukup," sindir pengamat politik Arbi Sanit.
Menurut Sanit, modal yang paling penting untuk nyapres adalah syarat dukungan minimal 20 persen perolehan suara parpol di pemilu legislatif. Otomatis Deddy harus didukung oleh sejumlah parpol. Tapi sayangnya partai-partai yang diprediksi bakal meraih suara besar, seperti Partai Demokrat (PD), Partai Golkar, dan PDIP, sudah mengajukan capresnya masing-masing.
Memang Deddy masih punya peluang untuk mencari dukungan dari parpol-parpol kecil. Namun itupun masih sangat sulit. Sebab parpol-parpol tersebut belum tentu meraih kuota suara yang ditetapkan. Lagi pula parpol-parpol kecil merasa tidak akan ada untungnya mendukung Deddy. Alasannya, Deddy tidak punya kekuatan politik yang memadai, juga modal untuk menggerakan mesin partai.
"Kalau pakai logika, pencapresan Deddy tidak masuk akal. Jadi saya pikir pernyataan Deddy hanya main-main. Paling cuma sandiwara saja," ungkap Sanit.
Namun Ketua Pedoman Indonesia Fadjroel Rahman, punya pandangan berbeda. Menurutnya, munculnya Deddy Mizwar justru bisa menguntungkan parpol-parpol yang mendukungnya. Dengan menjual popularitas Deddy, perolehan suara parpol tersebut diprediksi bakal terdongkrak.
Saat ini parpol pendukung Deddy antara lain, Partai Kedaulatan, PPD, Partai Buruh, Partai Merdeka, PKDI, PBB, PPI, PPDI, PKPI dan PSI. Kalau dukungan itu benar-benar real, imbuh Fadjroel, bisa jadi daya tawar tersendiri bagi Deddy.
Hitung-hitungan Fadjroel, koalisi parpol pendukung Deddy bisa mengumpulkan suara paling tidak 10 persen. "Modal 10 persen saya kira cukup untuk mengajak parpol lain mendukung Deddy," pendapat Fadjroel.
Nah, jika Deddy sudah resmi tercatat sebagai kontestan capres, dukungan terhadapnya diperkirakan akan lebih banyak. Sebab sosok pemain sinetron Kiamat Sudah Dekat ini sudah dikenal masyarakat. Tapi itu juga masih berupa hitung-hitungan di atas kertas, baru sebatas teori.
Hitung-hitungan itu juga jadi pertimbangan Uncu dan timnya terus menggali dukungan ke sejumlah pihak. Sejauh ini beberapa parpol lain sudah didekati. Namun Uncu tak mau menyebutnya. "Nanti digembosi bisa berabe," ujar mantan anggota DPR RI tersebut.
Yang pasti, klaim Uncu, saat ini sejumlah tokoh masyarakat di sejumlah daerah yang sudah meminta Deddy untuk tim Merak (mengutaman rakyat) di daerah mereka masing-masing. Tapi permintaan itu tidak bisa dilakukan karena saat ini Uncu dan tim mengaku sedang sibuk menggarap Jakarta, terutama parpol-parpol.
Namun dari respon tersebut Uncu merasa semakin yakin kalau dukungan terhadap Deddy tidak main-main."kami bergerak seperti salju. Awalnya kecil kemudian besar dan semakin membesar," pungkasnya.
(ddg/ron)











































